Diroad dan Relevansi yang Dibawanya

Oleh Moehammad Setiawan


Malam itu Diroad naik panggung dengan pemain inti lengkap. Selengkap-lengkapnya, senjata penuh [1]. Mereka menutup rangkaian pameran & kelas memperingati Hari Perempuan International oleh Metamorphoo Palembang [2]. Diroad menutup 1 minggu rangkaian kegiatan tersebut dengan begitu mengesankan.

Beberapa bulan lalu, teman saya Rylian punya projek menarik. Di sela kesibukannya sebagai dosen sekarang, dia berniat merangkum musik melayu sumatera dengan pintu masuk Semakbelukar [3]. Sama seperti saya dan kebanyakan lainnya, Rylian mendapati hal yang begitu menarik dengan kemunculan Semakbelukar dan melayu yang dibawanya. Terlebih lagi ada korelasi yang kuat antara tempat dia yang mengajar dan apa yang mau dia tunjukkan dari grup musik melayu ini sendiri. Sebelum fenomena grup musik melayu ini menjadi begitu besar dan membuka banyak pintu lagi akan eksplorasi atas apa yang dilakukan David Hersya dkk; Mereka keburu membubarkan diri, benar-benar menghilang dan menolak bentuk publikasi apapun setelah mereka bubar [4]. Kemunculan mereka hanya sekali setelah pengumuman bubar, itu pun dalam bentuk penolakan keras terhadap penggunaan karya mereka yang kurang mereka sepakati [5]. Masalah menutup diri dan menhilang ini pun lantas juga dihadapi oleh Rylian, Rylian bisa dibilang akhirnya hanya sedikit menemukan jejak dari Semakbelukar, malah bisa dibilang gagal untuk melakukan reportase mendalam terhadap mereka. Di tengah proses pengumpulan informasi itu, Diroad muncul membawa nyawa yang sama. Pintu masuk lain Rylian muncul. [6]

Perkenalan pertama saya dengan Diroad adalah Kompilasi Stand With Cinde [7], mereka mengajukan diri untuk ikut terlibat, atas kurasi dan direct Rimauman Music, mereka membuat 1 lagu baru untuk mendukung penolakan penggusuran pasar tradisional tengah kota, tentu dengan cara mereka sendiri, hasilnya diluar ekspetasi: penggabungan seni bertutur, dendang melayu, gesekan pilu, teriakan sedih, kultural nan tradisional tapi dengan nafas penolakan pada kebijakan yang timpang.

Saya dengar mereka memang sudah main dan punya beberapa show awal sebelum keterlibatan mereka dengan Kompilasi Stand With Cinde, dengan format tak selengkap sekarang, hanya bertiga, 2 gitar sekaligus vokal latar dan 1 vokal utama, berkomitmen untuk kembali membawa musik melayu lewat ranah populer. Menyambung secara tak langsung bunga rampai terdahulu mereka untuk benar-benar membuktikan semua itu bisa terjadi. Bunga rampai yang saya dan Rylian baru jelas sadar jika memang ada.

Di sela interview Rylian dengan Diroad, Rylian menanyakan tentang Semakbelukar, bagaimana Diroad melihat fenomena “belukar” beberapa tahun silam, fenomena yang malah memaksa Jakartabeat.net sebagai corong musik pretensius menelurkan 5 tulisan tentang mereka [8] dan memaksa Tempo mencatat mereka dengan detail [9]. Mereka sontak menjawab jika Semakbelukar jugalah yang menginspirasi mereka, yang ketika didapati bukan hanya saja 5 orang dalam grup musik Diroad, tapi banyak kawan lain di Fakultas Seni Drama Tari & Musik salahsatu universitas keguruan Palembang, untuk selanjutnya tertarik mengekslorasi musik melayu dengan ragam karakteristiknya, sebagai perpanjangan lidah menyampaikan jika musik melayu bisa menjadi begitu mengagumkan.

Menariknya, relevansi yang dibawa Semakbelukar sebagai vanguard musik mereka baru muncul setelah 5 tahun mereka bubar, entah tergolong lama atau sebentar, tapi 5 tahun setelah mereka memutuskan bubar, sekolompok muda-mudi lain mulai melihat itu sebagai sebuah yang istimewa. Entah tergolong lama atau sebentar, tapi tak pernah tergolong terlambat akan relevansi yang ada ini. Tak berbicara senioritas ataupun tongkat estafet yang bersifat primodial, inisiasi ini memang terus hidup, inisiasi yang selalu Semakbelukar kesalkan dan disebut selalu sendiri dan alternatif dari alternatif yang ada [10]. Inisiasi ini disambut 5 tahun kemudian, untuk diteruskan dengan nafas yang sama.

Bahwa apa yang Semakbelukar mulai memang tak pernah mati ataupun berhenti, terbukti dengan karya mereka sendiri yang tak pernah dibilang mati sedari mereka bubar. Inisiasi itu juga, ini yang mereka bawa juga tak lewa-lewat begitu saja, 5 tahun kemudian yang akhirnya menjadi satu katalis baru kelompok penggila musik di jurusan Sendratasik (Seni-Drama-Tari-Musik) sebagai medium eksplorasi baru. Relevansi itu terus berlanjut dengan kemunculan Diroad, Cindai Benaspati dan kawan-kawan [11].

Malam itu saat showcase penutupan kegiatan International Women’s Day Metamorphoo, mereka tetap membawakan lagu yang ada dalam Kompilasi Stand With Cinde, yang dari mereka sadar dan benar-benar disadarkan, jika ada satu hal lagi yang tak relevan dibicarakan di Palembang. Pasca tetap digusurnya Pasar Cinde, ada satu topik yang sudah tak bisa dibicarakan dengan cara yang sama, ini memang selalu begitu, tapi dengan ini setidaknya jadi penjelas baru. Bahwa tetek-bengek perihal sejarah, perkara melestarikan, mempertahankan, dan apapun berkaitan dengan itu tak pernah relevan lagi untuk dibicarakan.

Bukan perkara baru sistem ekonomi modern mengangkangi apa yang mereka bangun sendiri, seperti ilusi “melestarikan sejarah” sampai yang cukup menggelitik “menghormati sejarah”, kita tahu sama tahu jika sistem ekonomi modern hanya menganggap itu sebagai rintangan kecil untuk mengakumulasi keuntungan, apa itu sejarah jika memang tak pernah bisa menghasilkan keuntungan secara signifikan. Jadi babat saja. Itu lumrah.

Palembang lebih bisa lebih konyol akan itu, kota bekas pusat kerajaan dengan kekuatan maritim terbesar seantero asia-tenggara [12], berbagai artefak dan prasasti yang ada di selatan sumatera tak pelak menjadi modal besar promosi daerah, promosi wisata yang begitu eksentrik: Wisata Sejarah. Ini yang jadi bahan jual Palembang terkhusus selama ini, begitu kuat dan populer tentu. Tapi dengan relevansi baru akan Cinde, pasar tradisional dengan kesemua karakteristik sejarah di dalamnya, yang jadi salahsatu yang layak dipertahankan jika kita berbicara perihal sejarah saja bisa dihancurkan, diratakan dengan tanah. Membicarakan tetek-bengek “mempertahankan-menghormati-melestarikan sejarah” akan jadi geli-geli basah saja sekarang bagi saya. Tambah geli-geli basah dari standar lama.

Pun keterlibatan Diroad juga menguatkan korelasi lain antara mereka dan Semakbelukar, membawa Melayu pada level baru, tak menjadi musik kerajaan pengagung penguasa, membawa keluar musik melayu yang begitu imprealistik, ke tengah titik permasalahan sebagai kontemplasi bersama untuk semua hal yang memang harus dipertanyakan ulang. Apapun itu. Menghilangkan skat tadi, untuk menjadi apa yang disebut sekarang sebagai folk, malah melampauinya. Berbeda Semakbelukar, berbeda Diroad, dengan mengusung tema masing-masing, penolakan dari term Melayu yang memang sudah usang itu dengan cara masing-masing.

Semakbelukar yang selalu dibilang band punk bermusik melayu selalu tau benar akan itu, ini bukan dari segi latarbelakang saja, tapi memang dari segi tingkah-laku mereka saat ada di grup Semakbelukar; tau benar bagaimana menggunakan musik melayu tapi tak tunduk dengan “melayu”, bermain musik sekenanya, senyaman mereka, tak tunduk pada pasar, memutuskan bubar setelah semua atensi, perhatian tertuju pada mereka.

Diroad belom punya rilisan fisik pasti dan terus berproses, yang bisa kita lihat hanya tombak mereka tak jauh berbeda, muara hujaman mereka pun hampir sama dengan pendahulu mereka, tak dengan kemarahan, lewat tutur kata mereka saling mengingatkan. Relevansi apa yang dibangun oleh Semakbelukar dengan begitu megah, dengan atau tanpa mereka mengamininnya, dengan atau tanpa mereka sadar, yang pasti secara tak sengaja untuk akhirnya diteruskan Diroad.

Membawa relevansi lama yang tak usang tersebut, oleh Diroad pula kita diingatkan, lewat kasus penggusuran Cinde, akan memang ada hal-hal yang memang tak lagi relevan dibicarakan. Bukan tentang Cinde sebagai sebuah tonggak sejarah, tapi tentang kebodohan dangkal, pemujaan lemah pada apa yang artifisial dan menjadikan semuanya sebagai dalih promosi komersial belaka. Kota yang selalu berceloteh dan menyanjung sejarah pada realitasnya adalah kota yang sama yang tak memang tak pernah perduli dan malah menghancurkan pelan-pelan sejarahnya; omong kosong sekaligus menyedihkan. Dan selanjutnya memang tetep bertahan dan terus memperkuatnya memang adalah jawaban, jawaban dari moda sistem ekonomi kapital yang tergambar memang tak bisa ditahan oleh apapun itu.

-------------------

Catatan :
1 – Instrument yang Diroad gunakan : Gitar, Cello, Akordion, Gendang Melayu, Bar Chimes
2 – Metamoorphoo Palembang adalah kelompok perempuan yang diisi oleh berbagai perempuan dari berbagai lingkaran, dari seni, puisi, crafting, literasi, musik dan lainnya. Pada tanggal 11 – 16 Maret mereka mengadakan 1 Minggu pameran dan kelas memperingati Hari Perempuan Internasional -- https://www.instagram.com/metamorphoo_/
3 – Semakbelukar adalah kelompok musik melayu Palembang. Lebih lengkap : https://aumanrimau.wordpress.com/2013/12/08/catatan-terakhir-untuk-semakbelukar/
4 – Pembubaran diri semakbelukar, menolak di Interview, kebanyakan sumber ada di website Elevation yang sedang perbaikan, catatan lainnya : https://www.jakartabeat.net/resensi/konser-dan-pertunjukan/konten/semakbelukar-tiada,-musiknya-masih-bernyawa?lang=id
5 – Semakbelukar menolak penggunaan karya mereka untuk film, rilis pers mereka keluarkan lewat website Elevation Record, terakhir cek sedang perbaikan. Singkatnya, Semakbelukar menolak penggunaan karya mereka untuk sebuah film dokumenter yang dibiayai oleh Ford Foundation.
6 – Pengantar Rylian untuk Projek tulisannya -- https://manifestun.blogspot.co.id/2018/02/diroad-sebuah-awal-perjalanan.html
7 – Stand With Cinde, gerakan urban melawan penggusuran pasar tradisional tengah kota. Salahsatu progam kampanyenya adalah Kompilasi Stand With Cinde berisi 4 musisi mengkampanyekan penolakan yang sama. -- https://soundcloud.com/rimaumanmusic/sets/save-pasar-cinde
8 – Cek tulisan Jakartabeat.net tentang Semakbelukar : https://www.jakartabeat.net/component/k2/tagar/semakbelukar
9 – Tempo menjadikan mereka feature, laporan khusus edisi Januari 2015, tulisan lengkap bisa dilihat di https://anandabadudu.com/2014/12/20/awal-dan-akhir-semakbelukar/
10 – Alternatif dari alternatif yang ada, salahsatu pertanyaan untuk mereka melalui interview dengan ((AUMAN)) -- https://aumanrimau.wordpress.com/2013/12/08/catatan-terakhir-untuk-semakbelukar/
11 – Diroad & Cindai Benaspati, beberapa kelompok dan personal lainnya yang muncul di Universitas PGRI, Fakultas Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) akhirnya punya kertertarikan lebih dengan eksplorasi musik melayu.
12 – Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya di nusantara yang bersifat agraris, Sriwijaya menjadi kerajaan pertama dan terbesar yang mengembangkan kekuatan maritim di Asia tenggara. -- https://www.jejaktapak.com/2017/07/28/sriwijaya-kekuatan-maritim-terbesar-pertama-di-asia-tenggara/
x