Penuh Hari Kebosanan

Oleh : Adam Sandro
Menyoroti permasalahan pendidikan yang sedang terjadi di negeri ini. Ada pertanyaan yang mengambang di benak saya dan ini sebenarnya pertanyaan yang sangat klise : sudah layakkah pendidikan di negeri ini? Tentunya jawaban dari setiap pertanyaan merupakan suatu hal yang relatif bagi setiap orang. Menurut saya pribadi pendidikan di negeri ini sangatlah belum layak, ada banyak sekali faktor yang membuat pendidikan itu sendiri belum layak melalui kacamata saya ataupun mungkin orang lain, namun bukan faktor itu yang akan jadi pokok bahasan dalam tulisan saya ini.

Jika diibaratkan pendidikan di negeri ini seperti perjudian yang memakan waktu, menunggu waktu yang lama dan menaruhkan segalanya untuk sebuah kemenangan yang belum tentu di dapat kelak. Namun sebagian besar para gamblers ini terlanjur menyalam dengan basah kuyub bak tikus tercebur parit.


Pendidikan seharian penuh
Media sosial sempat dikejutkan dengan wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru Muhadjir Effendy tentang akan diberlakukanya pendidikan seharian penuh di Indonesia, polemik yang tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Dan saya termasuk di barisan kontra penuh hari, bahkan sudah ada petisi yang terang-terangan menolak sistem pak menteri baru ini dan sampai sekarang sudah ada 42.147 kepala yang mendukung petisi ini (1).

Menurut Bapak Menteri yang juga seorang profesor ini, "Anak-anak muda zaman sekarang masih banyak yang bermental lembek dan tidak tahan banting," katanya pada Ahad (7/8) di Malang. Menurutnya diperlukan restorasi pendidikan terutama pada level SD dan SMP karena pada tahap itulah karakter anak bisa terbentuk. Full Day School dipandang mampu menjadi salah satu solusi untuk membangun generasi penerus berkualitas.”(2). Perspektif setiap orang memang berbeda, sebagai orang yang mungkin berkopensi di bidang pendidikan sebaiknya bapak menteri meninjau kembali wacana ini sebelum diterapkan di dunia pendidikan yang fana ini. Jika ini terus dilanjutkan bukan tak mungkin akan muncul petisi penggantian menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru

Beberapa dampak yang mungkin luput dan seharusnya terpikirkan oleh Pak Menteri sebelum menerapkan kebijakan kerja beliau :

1. Dampak kelelahan fisik maupun mental ini pasti akan terjadi, bayangkan jika setiap hari berada di sekolah 10 jam, belajar seharian, pulang pergi terjebak macet apalagi yang tinggal diperkotaan dan saya bisa membayangkan itu, tentunya kita tak ingin melihat anak dan guru yang kelelahan dan stres akibat kebijakan ini

2. Dampak psikologis anak dan guru juga harus diperhatikan, tanpa full day pun sering terjadi kekerasan dilingkungan sekolah seperti kekerasan fisik atau kekerasan non-fisik (verbal, bullying). Entah itu terhadap anak maupun guru, lantas apa yang akan terjadi kelak jika system full day-nya Pak Muhadjir ini di terapkan.

3. Dampak sosial, anak akan kehilangan waktu untuk mereka bersosialisasi bermain dan mengeksplore dunia sekitarnya, dan yang terpenting mereka akan kehilangan waktu terpenting yang bisa dihabiskan bersama keluarga karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, yang pasti waktu-waktu terpenting diluar sekolah lebih bisa membentuk kharakter mereka dibandingkan seharian disekolah.

Guru juga tidak hanya berkopetensi berdasarkan standar, selain itu mereka juga harus lebih kreatif dan interaktif terhadap cara mereka mengajar agar tidak selalu timbul kebosanan dalam belajar, bila itu tidak terpenuhi maka yang terjadi mungkin kembali ke poin sebelumnya.

Pentingnya pendidikan dasar
Keluarga berperan penting dalam hal ini, orang tua yang merupakan pondasi awal perkembangan pendidikan dasar anak. Saya pernah membaca novel dimana seorang ayah bernama Firas yang merupakan dosen sekaligus seorang ahli mikologi, mengajarkan anak sulungnya Zarah dengan cara dan sistem yang ia buat sendiri sehingga anaknya yang berusia pra sekolah menguasai pelajaran yang seharusnya belum dipelajari oleh anak seusianya bahkan diatasnya, jadilah Zarah anak yang berkarakter seperti yang diharapkanya (3). Setiap keluarga/orang tua berperan memberikan pendidikan dasar layak yang mungkin tidak didapati di sekolah atau di lingkungan sekitarnya.

Mengutip pula sebuah artikel kompas yang di tulis (Yudi Latif), beliau menyarankan agak memprioritaskan pendidikan dasar yang lebih mengedepankan pelajaran membaca yang lebih dari sekedar belajar melek huruf atau sekedar membaca buku yang diwajibkan, membaca harus dibiasakan sejak pendidikan dasar. Kebiasaan membaca sejak dini  memudahkan anak-anak menjelajahi dunia melampaui batas-batas pelajaran sekolah.

Budaya baca kian penting dihadapkan pada perluasan terpaan media digital dengan muatan pesan yang lebih ringkas dan instan. Tanpa tradisi membaca yang kuat sulit bagi generasi muda  memahami dan mengembangkan penalaran panjang seperti pengetahuan-pengetahuan naratif (filsafat, ideologi, sejarah, agama,  dan sastra). Padahal pengetahuan naratif merupakan sumber penemuan diri dan pembentukan karakter.(4)

Wacana full day bukanlah juru selamat pendidikan di negeri ini, sebaiknya kita belajar dari Negara yang pendidikanya lebih maju dengan level terbaik didunia seperti Finlandia yang menerapkan lima jam sehari dan jepang yang menerapkan enam jam sehari untuk anak-anaknya  bersekolah, namun mereka bisa mencetak SDM yang berkualitas, cara apa yang mereka terapkan sehingga mencapai level itu? Inilah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Restorasi dengan penambahan kuantitas waktu bukan lah solusi, sebaiknya kualitas pendidikan dan sistem pendidikan dasar kita lah yang perlu diperbaiki, Selama pendidikan masih terpusat pada anggaran, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bongkar pasang kurikulum, standar kopetensi guru, lalu anak-anak terus di jejali mata pelajaran dengan muatan kognitif. Kemudian sukses pendidikan yang diukur dari pencapaian anak di bidang penalaran dan ujian nasional, maka pendidikan kita tak akan kemana-mana hanya berjalan di tempat.

Masalah diatas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya pekerjaan rumah yang berkaitan dengan pendidikan di negeri ini, sebaiknya dunia pendidikan memposisikan diri sebagai media yang baik dan tidak memaksakan sesuatu pada anak melainkan menuntun untuk memaksimalkan potensi mereka melalui edukasi yang lebih kreatif dan variatif, kemudian sekolah dengan segala sistem dan kewenanganya menjadi tempat menimba ilmu yang layak untuk kemudian melahirkan SDM yang berkarakter bukan menjadi penjara bagi generasi penerus bangsa.


Caki (catatan kaki):
(1). https://www.change.org/p/presiden-ri-tolak-pendidikan-full-day-sehari-penuh-di-indonesia
(2). http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/education/16/08/07/obj7tq365-mendikbud-baru-anjurkan-pelajar-sehari-penuh-di-sekolah
(3). Supernova (partikel)
(4). Kolom opini kompas edisi kamis, 4 agust 2016 judul- pendidikan tanpa mendidik(yudi latif)