Menelan Ludah, Wahai Identitas

Oleh : Junior Zamrud Pahalmas

Bagaimana kita dapat mengetahui suatu korelasi antara pandangan relijius dengan suatu pergerakan sosial yang sifatnya sangatlah duniawi? Jika apa yang diperdebatkan adalah urusan bumi dan langit, tentu institusi agama sangat lah begitu rumit untuk dapat dibahas. Terlalu panjang dalam mengkajinya. Namun penilaian itu belakangan ini sedikit terjebak dalam ruang lingkup identitas. Ya, cukup di identitas itu sendiri. 

Kita tahu, tidak ada yang salah dalam cara mengapresiasikan diri dalam suatu bentuk abstraksi tubuh untuk memahami dunia tersebut. Dari kalangan yang menyukai atribut tertentu demi merepresentasikan dirinya dimuka khalayak. Identitas ini akan condong lebih kedepan ketimbang nilai-nilai yang ada pada seseorang sebagai bentuk pengenalan diri. Bagaimana seseorang menggunakan boots Dr. Martens-nya sebagai sepatu kejayaan dengan vest penuh patch band kesukaan serta t-shirt orisinilnya dalam menyampaikan identitas, serta fashion lainnya yang mencirikan identitas tertentu, atau bahkan simbol-simbol tertentu atas ajaran kepercayaannya masing-masing.

Identitas diri ini kemudian akan bermuara pada identitas sosial sebagai bentuk interpretasi struktur dalam masyarakat yang berinteraksi. Dalam hal ini, menurut Waterman (1984) dalam Lefrancois, identitas berarti memiliki gambaran diri yang jelas meliputi sejumlah tujuan yang ingin dicapai, nilai, dan kepercayaan yang dipilih oleh individu tersebut. Komitmen-komitmen ini meningkat sepanjang waktu dan telah dibuat karena tujuan, nilai, dan kepercayaan yang ingin dicapai serta dinilai penting untuk memberikan arah, tujuan, dan makna pada hidup.[1] Sejalan dengan itu, Erikson (1989) dalam Kroger menjelaskan bahwa identitas sebagai perasaan subjektif tentang diri yang konsisten dan berkembang dari waktu ke waktu. Dalam berbagai tempat dan berbagai situasi sosial, seseorang masih memiliki perasaan menjadi orang yang sama sehingga orang lain yang menyadari kontinuitas karakter individu tersebut dapat merespon dengan tepat. Sehingga, identitas bagi individu dan orang lain mampu memastikan perasaan subjektif tersebut.[2] Tentu pencapaian adalah tujuan utama dalam memahami identitas, pembentukan diri yang dengan sengaja akan menampilkan personifikasi nan simbolik sesuai  harapan dan dapat dinilai oleh khalayak luas yang mana tak jarang luput untuk menyadarinya. Ini mengacu pada individu yang hidup secara sosial.

Lalu bagaimana diri memahami identitas itu sendiri? Sebagai makhluk sosial, manusia akan bertanya atas keberadaannya, “siapa aku,” yang mana dirumuskan oleh Descrates (1569-1656): “aku berpikir maka aku ada.” Pada umumnya orang akan meyakini ke-“aku”-an itu terpisah dan tersendiri, “aku” yang dimaknai individu nantinya berperan sebagai yang mengalami sesuatu, bahwa dirinya berbeda dari entitas kesatuan yang terpisah dan berbeda dengan orang lain. Erikson (1989) dalam Muus, menekankan pada konsep bahwa “diri” (self) diatur oleh ego bawah sadar atau unconcius ego serta mempunyai pengaruh yang besar dari kekuatan sosial dan budaya disekitar individu. Ego bawah sadar tersebut menyediakan seperangkat cara dan aturan untuk menjaga kesatuan berbagai aspek kepribadian serta memelihara individu dalam keterlibatannya dengan dunia sosial, termasuk menjalankan tugas penting dalam hidup, yaitu mendapatkan makna dalam hidup.[3]

Dalam memaknai hidup, individu akan berinteraksi sebagai proses pembentukan diri. Pencapaian dalam interaksi adalah posisi yang tidak bisa ditawar karena komunikasi terjalin antara komunikator menuju komunikan lainnya baik secara individu atau kelompok yang menghasilkan timbal-balik sesuai pesan yang disampaikan. Tentu komunikasi tidak hanya berupa verbal, ia-nya dapat berwujud dalam medium-medium perantara. Cukup mudah bila penulis menyampaikan tentang kemajuan teknologi belakangan ini. Keharusan dalam kemajuan teknologi sejatinya untuk mempermudah setiap perilaku manusia. Pola-pola baru tersebut dapat menjadi perpanjangan lidah hingga tangan yang serba koneksi melalui perangkat-perangkat keras, seperti tulisan ini. Penulis menyampaikan pesan kepada yang akan membaca sebagai bentuk berbagi atas kekhawatiran yang perlu disampaikan. 

Identitas, mengidentifikasikan dirinya melalui simbol-simbol tertentu. George Herbert Mead dalam Morissan mengatakan, makna muncul sebagai hasil interaksi di antara manusia baik secara verbal maupun non-verbal. Melalui aksi dan respons yang terjadi, manusia memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan dan karenanya kita dapat memahami suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu.[4] Hal ini dikenal dengan interaksi simbolis. Menurut pandangan interkasi simbolis, makna suatu sosial serta sikap dan rencana tindakan tidak merupakan suatu yang terisolasi satu sama lain, seluruh ide interaksi simbolis menyatakan bahwa makna muncul melalui interaksi.[5] 

Dengan kata lain, interaksi adalah sebagai katalis dalam pemaknaan secara simbolik. Orang-orang terdekat memberikan pengaruh dalam kehidupan sosial, mereka adalah orang-orang yang dengan siapa memiliki hubungan atau ikatan secara emosional dengan menelaah baik dan buruknya. Orang terdekat kemudian dapat membantu individu dalam pembelajaran untuk membedakan antara diri sendiri dan orang lain sehingga diri memiliki sense of self. Hal ini mengacu pada konsep diri yang merupakan objek sosial penting untuk mendefinisikan dan dipahami berdasarkan jangka waktu tertentu selama interaksi antara diri dengan orang-orang terdekat. Konsep diri tidak lebih dari rencana tindakan diri terhadap diri sendiri, identitas diri, ketertarikan, kebencian, tujuan, ideologi, serta evaluasi diri.[6] Tentu, konsep diri memberikan acuan dalam menilai objek lain.

Melihat bagaimana diri begitu kompleks dalam memahami makna identitasnya sebagai makhluk sosial yang berinteraksi, penilaian itu benar begitu subjektif mengerucut, dan lingkungan adalah koridor pilihan antara baik dan buruk, penilaian itu akan bergantung pada kognisi tiap individu dalam memilah dua mata moral. Pengertian yang menjadi keharusan ini tak lain hanya untuk bagaimana individu akan berperilaku. 

Sudah barang tentu, kompleksitas manusia yang abstrak dimana ia-nya hidup dan berkembang dalam tingkatan masyarakat konstruktif nan ajaib itu ada. Manusia adalah produk bentukan yang berkembang dibawah payung kuasa. Rumitnya bertahan hidup menjadi pekerjaan rumah sehari-hari. Kata lainnya, pembentukan diri ini dengan sengaja di olah demi keuntungan-keuntungan pihak tertentu. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana seseorang menyikapi keadaan sosial yang sadar atau tidaknya telah berperilaku serupa. Menjadi benar ketika interaksi berkata benar, atau sebaliknya sesuai tolak ukur masing-masing. Meratakan keadaan beda lantaran situasi yang memaksanya berbeda, maka hal ini tidak akan sejalan dengan pengharapan yang majemuk.

Kesadaran penuh menjadi jawaban tentang bagaimana memahami perbedaan yang tidak bisa dipaksakan. Jika kita membacanya, tentu sangatlah mudah untuk dipahami, bukan? Bagaimana jika penulis menyandingkannya dalam ruang lingkup skena yang beredar antara musik, fashion, pandangan relijius, bahkan pilihan-pilihan menjalani hidup sekalipun. Mari kita menelan ludah sendiri untuk mengingat-ingat, adakah indikasi perilaku menolak dari keberagaman ini? Tidakkah tepat bila penolakan corak identitas tersebut menyerupai seorang fasis? Atau polisi-polisi itu telah merubah cirinya dan menyatu dalam skena demi menjaga stabilitas? Semoga saja penulis salah.

Komparatif jika identitas diri ini disandingkan dengan penilaian baik dan buruknya perilaku dalam situasi budaya serapan. Jika kini punk berkorelasi dengan diksi hibur sebagaimana menjadi argumen pro dan kontranya, bahkan telah mencapai tingkatan yang sangat ajaib, yaitu pandangan relijius. Namun diluar dari itu, memberi dukungan adalah bentuk nyata dari sikap menghargai perbedaan. Hal ini tidak hanya sebatas suka-tidak suka atau mendukung-tidak mendukung. Pengharapan yang mutlak adalah menyikapi serba beda menjadi ragam dukungan yang riil. Hasil perkara dari iya atau tidaknya bentuk dukungan ini tak lain adalah menentukan sikap. Seolah tidak keluar dari memahami masalah, membiasakan atas komentar yang sepenuhnya tidak perlu itu akan terlempar ke mata atau telinga yang lain. Proses pembentukan identitas ini kemudian akan tampak dan menjadi penilaian, tentang bagaimana manusia tersebut menjadikan dirinya sebagai individu tertentu. 

Tidak jarang adanya keberadaan seseorang atau kelompok tertentu yang terlihat tidak biasa atau hanya mengikuti alur keramaian, lalu kemudian seseorang atau kelompok lain dengan sembunyi-sembunyi hingga lantang akan berbicara diluar dari apa yang diketahui lebih jauh nan dianggap lucu. Terlebih mengenai orientasi dalam memahami budaya serapan ini, banyak diantara kita yang senang berceloteh riang atas dasar penasaran dan ingin tahu lebih jauh mengenai keanehan-keanehan yang menurutnya cukup seru untuk dijadikan obrolan menunggu adzan. Bagaimana tujuan identitas ini menilai sekitarnya yang dipengaruhi oleh sekitarnya pula. Proses silang yang terlihat cukup sinergis karena diluar dari adanya rasa sadar, sebegitu ampuhnya konstruksi kuasa itu hadir.

Identitas tidak hanya berhenti pada apa yang dikenakan, adalah perihal proses menyetujui sebuah pandangan, melihat identitas individu yang sadar memilih untuk tanggap keadaan atas sekitarnya dalam pandanganan diri. Ketika muncul pembedaan-pembadaan atas banyaknya ragam, disana identitas menjadi ihwal dalam pembentukan diri sebagai yang melatari sikap. Interaksi yang terjalin adalah proses memahami keadaan dan mengecil menjadi hasil akhir, yaitu berperilaku.

[1]Lefrancois, G. R. 1993. 4th ed The Life Span. Calfornia: Wadsworth, Inc.
[2]Kroger, J. 1997. 2nd ed Identity In Adolescen, The Balance Between Self and other. London: Sage Publication, Inc.
[3]Muus, R. 1996. Theories Of Adolescence. New York: Mc Graw Hill.
[4]Morissan. 2013. Teori Komunikasi: Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
[5]Ibid.
[6]Ibid.