Kontradiksi Mao

Oleh : Teorem4
Pada bagian pendahuluan, Mao memaparkan bahwa hukum kontradiksi dalam hal-ihwal, yaitu hukum persatuan dari yang bertentangan, adalah hukum yang paling pokok dalam dialektika materialis. Lenin berkata, “dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakikat dari hal-ihwal”, dan menyebut hukum ini ‘hakikat dialektika’ atau ‘inti dialektika’. Karenanya, menurut Mao, dalam mempelajari hukum ini kita harus membicarakan hal-hal yang meliputi cakupan yang luas dan persoalan-persoalan filsafat yang jumlahnya teramat banyak. Apabila persoalan-persoalan tersebut dapat dijernihkan maka kita akan sampai pada pemahaman yang pokok tentang dialektika materialis. Persoalan-persoalan tersebut akan dijabarkan dalam keseluruhan teks Kontradiksi.



Mao memberikan konteksnya ketika menulis teks Kontradiksi sebagai respon terhadap idealisme mahzab Deborin yang mendapat kritik di kalangan filsafat Soviet dan turut memicu perhatian besar di kalangan pemikir Tiongkok. Idealisme Deborin yang dogmatis dan empirisis dinilai memberi pengaruh yang sangat buruk dalam Partai Komunis Tiongkok lewat cara-cara berpikir doktriner dalam partai yang ada hubungannya denga cara kerja mahzab tersebut. Mao menegaskan bahwa tujuan pokok studi filsafat partai yang disampaikan dalam Kontradiksi adalah menghapus cara-cara berpikir doktriner.

Mao menulis Kontradiksi berisi dikotomi beserta contoh-contohnya di sepanjang teks. Perlu diingat, Taoisme telah lama menjadi pemikiran dominan di masyarakat Tiongkok dengan dikotominya; semacam baik-buruk, setan-malaikat, kiri-kanan. Penggunaan dikotomi ala Taoisme oleh Mao barangkali bersifat kontekstual, agar mudah dipahami masyarakat Tiongkok pada masa itu. Namun tentu jelas, perbedaan utama Taoisme dengan dialektika materialis terletak pada penekanan materialis dari filsafat Marxis, bukan moralitas atau hal-hal yang bersifat ilahiah. Sebelum bicara tentang metode analisis yang digunakan Mao, penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami bahwa filsafat Marxis adalah setidaknya berpikir (1) meyakini materi sebagai substansi realitas, sehingga 2) segala bentuk dan isi kontradiksi tidak boleh dipostulatkan sejak awal. Maka, (3) penemuan kontradiksi dalam dialektika materialis harus dilakukan melalui penyelidikan realitas—penyelidikan atom berhasil menemukan kontradiksi dalam unsur penyusun atom, penyelidikan masyarakat menghasilkan penemuan kontradiksi dalam unsur penyusun masyarakat.  Mudahnya, filsafat Marxis dapat dibelah sebagai berikut; penafsiran materialis, analisis dialektis. Kontradiksi Mao berbicara banyak tentang metode analisis; dialektika, meskipun keduanya sejatinya tak terpisahkan. Tak ada materi tanpa gerak, tak ada gerak tanpa materi.

*Karya filsafat ini ditulis oleh Kawan Mao Tse-Tung pada bulan Agustus 1937 dengan tujuan antara lain mengatasi pikiran dogmatis yang serius pada waktu itu di dalam Partai Komunis Tiongkok, dan mula-mula diceramahkan di Universitas Militer dan Politik Anti-Jepang di Yenan. 

Dua Pandangan Dunia; Metafisik dan Dialektik
Sepanjang sejarah pengetahuan, terdapat dua pandangan hukum perkembangan dunia yang mana keduanya saling bertentangan, yaitu pandangan metafisik dan pandangan dialektik. Merujuk Lenin, dua konsepsi pokok perkembangan adalah (1) perkembangan sebagai suatu pengurangan atau penambahan, sebagai pengulangan; dan (2) perkembangan sebagai persatuan dari yang bertentangan (pemecahan sesuatu menjadi bagian-bagian yang bertentangan; saling menyisihkan sekaligus berinteraksi).

Pandangan dunia metafisik melihat dunia dari segi yang terpisah-pisah, statis dan satu pihak. Pandangan ini menganggap segala sesuatu di dunia ini—bentuk-bentuknya dan jenis-jenisnya—untuk selamanya terpisah satu sama lainnya dan tidak berubah. Andaikan terdapat perubahan, itu hanya berupa penambahan atau pengurangan jumlah atau perpindahan di dalam ruang. Juga, sebabnya tidak terletak di dalam hal-ihwal, tetapi berasal dari luar hal-ihwal itu, alias karena dorongan kekuatan-kekuatan luar. Pandangan ini menganggap bahwa segala macam hal-ihwal di dunia ini serta sifat-sifatnya tetap tinggal tak berubah sejak saat mereka terwujud. Perubahan berikutnya hanya berupa pengembangan atau pengecilan secara kuantitatif, bahwa sesuatu hanya dapat direproduksi berulang-ulang, entitas sesuatu tersebut adalah selamanya dan tidak dapat berubah menjadi yang lainnya. Akan tetapi, dalam seluruh proses hal-ihwal, perkembangan terjadi dengan mengisi seluruh ruang yang ada, dengan meninggi, menyamping, melintang, ke segala penjuru. Perkembangan dialektika materialis, menurut Engels, berbentuk spiral; gabungan antara linier dan sirkuler. Hal tersebut jelaslah masuk akal dan konsisten dengan asal-usul gerak dari penjelasan dialektika materialis, yaitu kesatuan dari hal-hal yang bertentangan. Satu waktu bentuk gerak ini saling tarik-menarik, lalu menyempit, dan di lain waktu saling dorong-mendorong kemudian melebar; begitu seterusnya tanpa henti. Seperti perampasan lahan, terpisahnya produsen dari alat produksi dan proletarisasi jangka pendek—dan mungkin juga menengah—demi industri pada kelahiran kapitalisme, yang masih tetap terjadi hingga sekarang dan bahkan ketika kapitalisme telah berkembang hingga menemui kontradiksinya; krisis overakumulasi? Maaf kalau itu pertanyaan yang panjang sekali, kawan-kawan. Dialektika materialis merupakan filsafat yang berhasil mendamaikan dikotomi-dikotomi abadi dalam dunia pemikiran; lurus-lingkaran, tubuh-jiwa, kolektivitas-individualitas, keniscayaan-kehendak bebas, dan lain sebagainya. Maka perlu disadari bahwa dikotomi-dikotomi tersebut, sekaligus pertentangannya, tidaklah dapat terhindarkan.

Tentang spiralitas perkembangan dialektika materialis, dalam ilmu alam kita menemukannya pada DNA yang berbentuk heliks ganda—double helix. Jika itu bentuk linier, atau sirkuler, dia akan statis. Agar bergerak—melalui stretching—maka dibentuklah gabungan linier dan sirkuler berwujud spiral. Ekspresi gen—pembentuk karakteristik—makhluk hidup adalah lewat pembentukan DNA. Apa kita semua pernah belajar tentang bagaimana kompleks dan dinamisnya proses pembentukan DNA? Suatu proses berkembang. Proses awal (transkripsi) adalah melebar-menyempitnya DNA menjadi RNA, kemudian RNA yang membawa kopian kode dari DNA diterjemahkan di proses berikutnya (translasi)—yang juga terjadi pemanjangan dan pelepasan atau pemutusan dalam prosesnya; menjadi materi pondasi, yaitu protein. Pembentuk sel, penyusun kita. Dan tentu dalam setiap tahap prosesnya terdapat kontradiksi.

Penghisapan dan persaingan kapitalis serta individualisme dalam masyarakat kapitalis, menurut pandangan metafisik terdapat dalam masyarakat perbudakan zaman purba, bahkan dalam masyarakat primitif, dan tidak akan berubah untuk selama-lamanya. Sebab-sebab perkembangan masyarakat dijelaskan dengan syarat-syarat di luar masyarakat, seperti geografi dan iklim. Pandangan yang mencari ‘cara berpikir gampangan’ seperti ini menyangkal teori dialektis materialis yang berpendirian bahwa perkembangan timbul sebagai akibat kontradiksi-kontradiksi di dalam hal-ihwal itu sendiri. Pandangan metafisik semacam ini tidak mampu menjelaskan keanekaragaman kualitas hal-ihwal maupun gejala perubahan satu kualitas menjadi kualitas yang lain.

Bertentangan dengan pandangan dunia metafisik, dialektika materialis menyarankan investigasi perkembangan hal-ihwal dari dalam, dari hubungannya dengan hal-ihwal lain; memandang perkembangan sebagai gerak yang bersifat internal dan natural. Gerak internal tersebut yang menyebabkan hal-ihwal saling berhubungan dan saling berpengaruh dengan sekitarnya. Sebab pondasi perkembangan tidak terletak di luar tetapi di dalam hal-ihwal itu sendiri, terletak pada kontradiksi di dalamnya sendiri dan karenanya timbul gerak dan perkembangan. Kontradiksi internal inilah sebab fundamental perkembangan, sedangkan saling-hubungan dan saling-pengaruh dengan hal-ihwal yang lain adalah sebab sekunder. Dengan demikian, dialektika materialis secara efektif berlawanan atau memerangi teori sebab-sebab luar atau teori dorongan luar yang dikemukakan oleh materialisme mekanik dan evolusionisme vulgar metafisik. Jelaslah bahwa sebab-sebab luar hanya mungkin menimbulkan gerak mekanis hal-ihwal, yaitu perubahan-perubahan dalam jumlah; skala dan besaran, namun tidak mungkin menjelaskan seribu satu macam perbedaan hal-ihwal secara kualitatif dan perubahan dari satu hal menjadi hal lain yang berbeda. Faktanya, bahkan gerak mekanis oleh dorongan kekuatan luar itupun terjadi melalui kontradiksi internal hal-ihwal kekuatan tersebut. Perubahan alam terutama disebabkan oleh perkembangan kontradiksi internal di dalam alam sendiri, yaitu kontradiksi antara tenaga produktif dengan hubungan produksi, kelas-kelas, baru dan lama; perkembangan kontradiksi-kontradiksi inilah yang mendorong kemajuan masyarakat dan menggantikan masyarakat lama dengan masyarakat baru.

Dialektika materialis tidak mengesampingkan sebab-sebab luar. Dialektika materialis menganggap bahwa sebab-sebab luar adalah syarat bagi perubahan dan sebab-sebab dalam adalah dasar dari perubahan, dan bahwa sebab-sebab luar memainkan perannya melalui sebab-sebab dalam. Pandangan-dunia dialektis terutama mengajarkan kita agar pintar meneliti dan menganalisa gerak kontradiksi-kontradiksi dalam berbagai macam hal-ihwal, dan berdasarkan analisa tersebut itulah, cara-cara memecahkan kontradiksi dapat ditemukan. Itulah esensi pentingnya secara kongkrit memahami hukum kontradiksi dalam hal-ihwal dan masyarakat. Apa yang disampaikan Mao di sini dan juga seterusnya, terdengar seperti hadirnya dualitas. Tapi yang saya pahami, dualitas sebagai materi, adalah realitas. Justru dualitas adalah sejatinya potensi sebab pembentuk kontradiksi-kontradiksi tersebut.

Catatan penulis: Resume teks Kontradiksi (Mao Tse-Tung) ini adalah suatu tulisan “seri belajar” yang akan rutin ditulis secara berseri per bagiannya. Untuk seri pertama ini, penulis meresume bagian Pendahuluan yang ditulis oleh Kawan Mao sendiri, dan Bagian I, Dua Pandangan Dunia. Aktivitas kegiatan membaca keseluruhan isi Kontradiksi, diskusi dengan teman-teman, dan penulisan resume ini adalah untuk kebutuhan belajar pribadi dan semoga akan tetap dilanjutkan penulis nantinya baik secara individual maupun kelompok—misal berupa kelompok belajar. Materi ringkasan ini murni berasal dari konten yang terdapat dalam Kontradiksi (Mao Tse-Tung) terbitan Teplok Press (Jakarta, 2000), diterjemahkan oleh Ismail, untuk digunakan sebagai bahan belajar pribadi penulis. Harapan ke depannya, penulis dapat mengembangkan hasil pemikiran mandiri penulis yang didapat dari teks tersebut untuk dituangkan dalam tulisan lanjutan baik berupa resensi, opini, kritik, dan lain sebagainya.