Menyikap Asap dan Menyerang Titik Api Sebenarnya



"Mereka membawakannya, seperti tahun sebelumnya, tepat di depan matamu & masuk ke paru-paru"

Siapa mereka?

"Mereka" adalah metafora yang sering juga kita pakai dalam berbagai medium, yang awalnya hanya berniat menyamarkan, terlihat lebih halus, tak terlalu frontal, tapi tetap menusuk, tapi entah akhirnya ini jugalah yang menggiring pada abstraksi baru, atau pada (si)apa ini akhirnya ditujukan secara personal.

Kabut asap menjadi contoh paling gamblang dan sebuah metafora paling nyata dari kekaburan lapisan eksploitasi dari kejahatan kapitalisme ini sendiri.

Sebuah lapisan yang mengaburkan benang merah sebenarnya dari mana semua ini bermuara.

Tak terlalu muluk atau terlalu naif juga, tapi tentu tak bisa kita pungkiri jika persamaan dari semua yang terjadi dari Rembang, Batang, Kulon Progo, Papua, Kalimantan, sampai Sumatera, dari tambang pasir, pabrik semen, tambang emas, hewan langka, dan kabut asap, kesemuanya adalah indikasi, hasil, dan proses dari ekspansi atau akumulasi primitif sistem kapitalis ini sendiri.

Dan dihadapannya (sistem kapitalis) ekspansi dan dampaknya yang menyusahkan ini adalah normal sebagai kebutuhan apa yang mereka sebut perkembangan.

Dede Mulyanto, yang sekarang mengisi kolom logika di Indoprogress secara faktual ditulisan barunya memaparkan konstilasi benang merah dalang dari pembakaran yang tertutupnya oleh kabut asap, upaya menemukan kembali "Titik Api" sebenarnya. 


Bagaimana "Titip Api" ini dikaburkan dan terkaburkan, dari hal paling lumrah menyalahkan alam dan musim kemarau, kejahilan, ketidaksengajaan, sampai dilansir dari Bahan Rapat Dengar Pendapat Kementrian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional yang menyebutkan di point terakhir dalam "Beberapa Penyebab kebakaran:" adalah Faktor Kesengajaan oleh oknum yang mempunyai masalah dengan PT. Kekonyolan yang hanya membuktikan satu hal, kita tahu kemana mereka (pemerintah red.) selalu berpihak.

Mas Dede membeda konsep "Mereka," dan "Si(apa)," melogikan kembali sebagaimana divisi kerja baru dia di indoprogress ini dengan cukup detail dan terstruktur untuk mengelaborasi lagi dimana atau siapa atau mungkin apa "Titik Api" ini sendiri.

Dan kemana kritik keras ini akhirnya harus berlabuh.

Tulisan penuh "Asap Kapitalistik" dari Mas Dede Mulyanto bisa di cek di laman Indoprogress berikut: http://indoprogress.com/2015/10/asap-kapitalistik/