Solidaritas Komuniti Untuk Mentawai dan Merapi

(Cerita Penggalangan Dana Untuk Korban Bencana Tsunami Mentawai dan Merapi Sleman)
Ini adalah sebuah inisiatif dari beberapa komuniti yang ada di Palembang untuk melakukan serangkaian aktifitas penggalangan dana bagi mereka korban bencana di Mentawai dan Merapi. Pada awalnya inisiatif ini hanya memiliki rencana untuk menggelar kotak donasinya pada saat tabling FNB pada hari mingggu, tanggal 31 Oktober kemarin. Tapi ide ini kemudian menjadi berkembang lagi setelah terjadi pembicaraan yang lebih luas diantar kawan-kawan yang biasanya membantu pengorganisaian tabling FNB. Akhirnya disepakati untuk melakukan beberapa rangkaian kegiatan, dan juga mengajak kawan-kawan dari komuniti lainnya untuk turut berpartisipasi.

Sabtu sore itu kami mulai berkumpul, sesuai dengan kesepakatan kami tadi malam. Beberapa kawan-kawan dari Kolektif Perempuan juga hadir, selain kawan-kawan yang biasanya membantu pengorganisasian FNB, yang biasanya terserak diberbagai tempat sebelum bertemu di satu titik untuk melakukan ritual sweeping pasar, tapi itu tidak untuk kali ini.

Target kami malam ini adalah uang berlebih di pusat-pusat keramaian, tidak hanya sayuran gratis seperti biasanya untuk kebutuhan tabling esok hari. Perlengkapan telah disiapkan; kotak kardus yang telah ditempel kertas bertulisan besar “Penggalangan Dana Untuk Solidaritas Mentawai dan Merapi” dan gitar kopong. Rencananya memang malam ini kami akan menyanyikan beberapa lagu sambil menggelar kotak donasi.

Jarum pendek mulai mendekati angka delapan, tidak ada lagi yang perlu kami tunggu. Warung serabi Akang didepan tempat yang kami tongkrongi sejak tadi, malam ini dibooking untuk acara ulang tahunan. Tidak salah untuk menjadi awalan, karena kini ia telah semakin ramai. Terasa sedikit kaku memulainya, tapi beberapa uang 5 ribuan dan 10 ribuan telah mengisi kotak donasi. Sesuai dengan dengan rencana, target besar kami ada di Kambang Iwak. Semua juga tahu, seperti apa wajahnya setiap malam minggu. Muda-mudi kelas menengah tumpah ruah disana, cukup dengan satu alasan: malam mingguan.

Armada kecil yang bersemangat besar segera berangkat menuju sasaran. Kali ini gitar yang kami bawa tidak kami gunakan seperti di warung serabi Akang tadi. Keberadaanya kali ini cukup menemani teman-teman yang memilih menunggu di dekat kendaraan-kendaraan yang membawa kami tadi diparkirkan. Dan kami juga tahu suaranya tidak akan mungkin bersaing dengan sound system cafe-cafe seputar Kambang Iwak. Klo pun mungkin, bukan tujuan kami malam ini untuk menghadirkan tandingan. Kami sedang melakukan penggalangan dana, dan pilihan kami adalah masuk kedalam cafe atau tempat makan yang ada. Ini semua memang diluar rencana.

Seperti razia gabungan dari berbagai kesatuan, tidak ada tidak ada satupun cafe ataupun tempat makan yang ada di seputar Kambang Iwak malam itu luput dari kunjungan. Sebelumnya saya dan beberapa kawan melakukan lobi terlebih dahulu dengan penangung jawab cafe atau tempat makan yang menjadi sasaran sebelum pasukan pembawa kotak donasi masuk menuju ke meja-menja tamu. Jika langsung bertatap muka, senyum yang akan mengawalinya sebelum kata-kata permisi di ucapkan. Tapi jika tidak langsung bertatap muka, kata permisi yang akan lebih dulu di ucapkan. Dan setelahnya…tentu saja penjelasan singkat tentang maksud dan tujaan kami. Dan kadang juga tentang siapa kami, atau cukup menunjukan tulisan kecil yang tertera di kotak donasi “ Solidaritas Komuniti Untuk Mentawai Dan Merapi”.

Setelah berkeliling satu putaran penuh. Penggalangan dana malam ini dicukup sampai disini dulu. Terlihat teman-teman yang tadi menunggu kini bertambah semakin ramai. Beberapa diantaranya menyisihkan uang untuk mengisi kotak donasi sebelum penghitungan uang dimulai. Hasil total penggalangan dana yang hanya dilakukan dalam beberapa jam ini sangat menakjubkan. Target perburuan selanjutnya adalah sayur-sayuran di pasar induk Jaka Baring.

Tengah malam belum lewat, beberapa kawan memilih pulang, untuk beristirahat terlebih dahulu, selain membawa pulang kotak–kotak donasi yang akan kami pergunakan lagi besok saat tabling. Diantaranya berjanji untuk kembali lagi setelah lewat tengah malam, tapi tentunya bukan mereka yang perempuan.

Panas menyengat hingga sore tadi cukup memberi alasan kenapa hujan datang dengan begitu lebatnya, dari tengah malam hingga menjelang subuh baru mereda. Tapi ada cukup obrolan dan minuman untuk menghangatkan. Dan tak terasa jarum pendek telah menuju ke angka tiga. Perjalanan menuju pasar induk Jaka baring segera dimulai. Mereka yang berjanji untuk datang dan kembali dari pulang telah hadir.

Menu tabling kali ini adalah Somay. Kentang dan kubis menjadi sayuran yang utama yang  kami buru. Tapi seperti biasanya selalu saja berbagai macam sayuran kami dapatkan. Seorang kawan yang berjualan disana memberi kami Wortel, Kubis, Sawi, Kembang Kol, juga Daun Sop dan Daun Bawang. Apa boleh buat, semuanya didapakan gratis dan tidak mungkin untuk ditolak. Kalau pun nanti tidak digunakan, biasanya sayuran-sayuran tersebut dibagi-bagikan lagi. Kalau tidak ke kawan-kawan yang hadir saat pengolahan makanan, biasanya ke tetangga sekitar tempat pengolahan makanan.

Setelah semuanya dirasa cukup. Sebelum langit menjadi terang kami beranjak untuk pulang menuju tempat pengolahan beserta sayur-sayuran yang telah kami dapatkan. Sesampainya, beberapa kawan memilih untuk pulang kerumah masing-masing, beberapa lagi memilih untuk beristirahat ditempat kami mengolah sayuran.

Tidur yang cukup lelap. Tak terasa posisi matahari hampir diatas kepala. Untung tugas kami kali ini hanya membersihkan dan memotong sayur-sayuran dan kemudian merebusnya. Bumbu kacang dan Somay di kerjakan dirumah seorang kawan yang berjanji untuk langsung bertemu dilokasi serving nanti. Hampir semua sayuran yang didapat kami gunakan kecuali Sawi, Daun Sop, dan Daun Bawang. Menjelang sore beberapa kawan mulai berdatangan ketempat kami mengolah sayur-sayuran. Beberapa diantaranya ikut membantu menyiapkan berbagai hal yang diperlukan saat tabling nanti.

Begitu semuanya beres. Kami berangkat menuju ke lokasi serving. Sesuai dengan apa yang telah direncanakan, tabling kali ini dibuka mulai dari pukul lima, jauh lebih awal dari tabling dua minggu kemarin. Satu persatu kawan mulai berdatangan, selain penyapu jalan yang sudah ada sejak kami sampai tadi. Terlihat kawan-kawan lain diluar kami sedang menggelar kotak-kotak donasi dilampu-lampu merah sekitar lokasi serving, hal yang diluar perkiraan kami sebelumnya. Melihat kondisi tersebut, kontak donasi yang rencananya juga akan gelar sore itu akhir baru direalisasikan pada saat malam setelah tidak ada yang menggelar kotak donasi.

Memang belum terlalu lama kami mengelar kotak donasi malam itu, tapi setelah menyadari bahwa menggelar kotak-kotak donasi di lampu-lampu merah pada waktu malam tidaklah kondusif, akhirnya kami memutuskan untuk mencukupkan penggalangan dana kami malam itu. Selanjutnya kami merencanakan untuk kembali menggelar kota donasi pada malam minggu berikutnya di Kambang Iwak serta mengorganisir studio gig untuk benefit juga pada malam yang sama.

Jarum pendek telah berada di angka sembilan. Tak ada lagi yang perlu kami bicarakan. Makanan pun hanya tertinggal sedikit lagi. Membereskan semua barang-barang yang kami bawa adalah pilihan terbaik sebelum pulang.

Panjang umur solidaritas…