Reportase Tabling FOOD NOT BOMBS Palembang

Minggu 3 Oktober 2010 di Simpang Charitas  

Jam satu lewat dinihari

Perut saya masih setengah kenyang, dan mata mulai berat. Selepas shalat malam, saya mendapat sebuah pesan singkat dari seorang teman yang mengajak bertemu di Lumban Tirta untuk mengaplikasikan rencana perburuan bahan-bahan makanan di pasar Induk Jaka Baring.


Jam dua lewat
Telepon genggam saya bernada panggilan masuk tapi mata saya ternyata lebih berat dari tangan untuk sekedar mengangkat telepon. Saya lanjutkan tidur.

Jam setengah tiga lewat
Saya terbangun ketika sebuah telepon kembali berbunyi. Ternyata teman-teman saya sudah berulang kali menelpon dan setelah saya angkat kami sepakat untuk bertemu di dekat rumah saya. Saya meminta waktu 20 menit untuk prepare. Dan 20 menit kemudian saya bersama istri sudah berada di tempat yang disepakati untuk kemudian menunggu lumayan lama. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu di Jaka Baring.

Jam setengah empat
Persis di depan gerbang pasar, saya berjumpa dengan teman-teman Lumban Crew. Dan kami  langsung menemui seorang teman lain yang memang berjualan di pasar tersebut. Dari titik sini, kami berpencar. Beberapa teman melobi-lobi beberapa pedagang. Teman-teman lain men-sweeping sayur-sayuran sisa. Sedangkan saya membangun sebuah pembicaraan dengan teman yang berdagang disana tentang ada atau tidaknya kemungkinan-kemungkinan mendapatkan celah sayur-sayur sisa yang masih layak konsumsi. Dan dari obrolan tersebut saya mendapat informasi bahwa harga pasaran sayur-sayuran di tingkatan agen rendah karena turunnya jumlah permintaan. Fenomena yang cukup aneh, setelah saya tahu bahwa harga ditingkatan pengecer ternyata cukup tinggi, padahal kita semua juga sama-sama tahu bahwa di beberapa daerah terjadi kerusakan panen akibat cuaca yang tidak menentu. Entahlah. Inilah pasar. Penuh fenomena ajaib.

Jam empat lewat
Luar biasa. Teman-teman yang tadi men-sweeping dan melakukan lobi-lobi dengan pedagang kembali ke titik pertemuan dengan membawa sekarung besar kubis, kentang, kembang kol, wortel, daun bawang, seledri, dan ada juga yang membawa kepala udang dan kepala-kepala ayam. Setelah merasa cukup, kami memutuskan untuk ke lokasi masak-memasak. Kawan yang berjualan disana membekali kami juga dengan wortel dan kembang kol dagangannya.

Jam sembilan pagi
Saya ke lokasi pengolahan bahan makanan, dan disana masih sepi. Saya sempat mengobrol dengan seorang teman sambil menunggu teman-teman yang lain. Setelah jam sebelas siang lewat, saya pergi sebentar meninggalkan lokasi untuk menghadiri acara resepsi pernikahan seorang kerabat.

Jam satu siang
Saya kembali ke lokasi dan sudah ada beberapa teman yang memilah-milah sayur-sayuran. Saya langsung terlibat dengan mereka. Tidak semua bahan makanan yang kami dapatkan diolah. Beberapa sayuran yang berlebih jumahnya dan juga sayuran yang tidak sesuai dengan menu yang kami tentukan dibagikan kepada kawan-kawan yang hadir saat itu. Dan untuk kepala udang dan kepala-kepala ayam tidak jadi kami olah karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan lagi. Tapi memanglah bahan makanan hewani sulit untuk di daurulang kembali. Sebuah pengalaman untuk kawan-kawan yang melakukan pengumpulan bahan makanan.

Dengan keterbatasan peralatan memasak dan mengingat waktu yang semakin menipis, kami putuskan untuk pindah ke lokasi lain yaitu rumah seorang teman, tempat dimana selama ini sering juga dijadikan lokasi pengolahan bahan makanan ketika tabling. Teman-teman satu persatu mulai berdatangan. Disini kami bertarung melawan waktu untuk merealisasikan rencana kami tabling ketika jam makan siang. Pengalaman-pengalaman mengajarkan kami berimprovisasi memainkan instrumen-instrumen  yang ada. Kondisi melahirkan inisiasi kami mengolah kelebihan dan kekurangan bahan-bahan yang ada, mengkondisikan waktu, dan mengatur alternatif-alternatif lokasi tabling.

Jam tujuh malam  lewat
Sesuai perkiraan, proses pengolahan bahan makanan kami selesai selepas waktu Isya. Kini Sup dan Bakwan serta Nasi sudah siap untuk dibawa. Tapi gerimis mulai turun. Kuatir akan turun hujan yang bisa mengganggu agenda kami, maka rencana kami untuk tabling di Taman Polda, maka harus kami pindahkan ke kawasan Cinde atau tepatnya di perempatan lampu lalu lintas RS Charitas. Setibanya disana beberapa kawan memasang spanduk, menyiapkan piring-piring, mengkondisikan posisi meja, kawan-kawan lain mengajak para pejalan kaki dan siapapun untuk menikmati santap malam bersama. Beberapa lainya asik berfoto ria, atau sekedar berbincang sambil menyantap makanan bersama.

Jam setengah sepuluh lewat
Tabling kali ini kami cukupkan sampai disini. Kami mulai mengemasi perlengkapan yang kami bawa sebelumnya. Sup yang masih tersisa dibungkus dan dibagikan pada kawan-kawan yang masih tersisa saat memngembalikan perlengkapan tabling dirumah seorang kawan. Akhir kalimat, semuanya masih tetap menyenangkan. Jumpa lagi dua minggu kedepan. (Anna Karenina)

Dokumentasi foto Tabling FNB PLG