BENTROK HARI TANI NASIONAL di PALEMBANG

(Reportase Peringatan Hari Tani Nasional di Palembang, 27 September 2010)


Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya yang selalu lenggang dihalaman Gedung Olah Raga Palembang yang sebentar lagi akan ditumbangkan berserta puluhan pohon-pohon yang mengelilinginya, untuk kemudian disulap menjadi kawasan bisnis dengan dibangunnya Hotel, Town Square, dan CafĂ© sebagai fasilitas pendukung Sea Games XXVI tahun 2011 nanti di Palembang. Sekitar pukul 09.00, belasan mobil-mobil truck mulai memenuhi halaman gedung bersama petani yang membawa berbagai bendera, spanduk, dan karton-karton yang bertuliskan berbagai tuntutan: ‘Jangan jadikan kami buruh dilahan sendiri’, ‘Kembalikan tanah yang dirampas Balih Sembawa’, ‘Bebaskan tahanan yang ada di Polres Banyuasin’, ‘Hentikan intimidasi terhadap warga oleh aparat’. Mereka datang dari berbagai kabupaten di Sumsel; seperti Banyuasin, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim.

Hari ini peringatan Hari Tani Nasional akan dimulai dari sini sebelum menuju Kanwil BPN (Badan Pertanahan Nasional) Sumsel dan kantor Gubernur Sumsel. Seperti biasanya pusat-pusat kekuasan ini selalu menjadi tempat favorit untuk menyampaikan berbagai tuntutan. Tiga hari sebelumnya pada tahun 1960, Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) disahkan. Sejak saat itu, tanggal 24 September dijadikan Hari Tani Nasional. Berbagai aksi dan kegiatan untuk memperingati Hari Tani Nasional dirayakan oleh aktifis dan petani di Indonesia.

Cuaca hari ini tidaklah begitu panas seperti kemarin. Sekitar pukul 11.00 terlihat seorang pemuda naik dan berdiri diatas mobil pick up yang berisi genset dan pengeras suara, melalui mic yang ada ditangannya menyerukan kepada para peserta aksi untuk mulai mempersiapkan diri mereka sebelum menuju ke dua tempat yang telah di agendakan dalam aksi hari ini. Mendengar hal itu peserta aksi pun mulai berkumpul dan membentuk barisan untuk mulai melakukan perjalanan. Tapi tidak diduga sebelumnya, tiba-tiba saja bapak Gubernur yang akan di temui hari ini dikantornya muncul dibalik kerumunan polisi dan petugas-petugas tidak beseragam.

Biasanya ia terlalu malas untuk hal ini, apalagi untuk seperti hari ini mendatangi peserta aksi. Mereka yang biasa mengunjungi kantor Gubernur untuk berdemonstrasi tentunya hafal dengan perlakuan apa yang didapatkan ketika meminta untuk bertemu dengan bapak Gubernur ini. Jika tidak ditemui oleh asistennya atau pejabat lainnya yang ada di kantor itu, hal terburuk adalah ditemui oleh komandan Pol.PP atau polisi yang bertugas disana. Setelah meminta statment aksi dan berjanji untuk menyampaikan hal itu kepada bapak Gubernur, kemudian memerintah massa aksi untuk membubarkan diri sebelum dibubarkan secara paksa. Kekuasaan memang arogan, semua tahu itu.

Entah angin apa yang membawanya hari ini, tapi yang pasti bukan angin surga karena ini menjadi awal dari bentrokan aksi hari ini. Ia datang dan langsung meminta mic dari tangan pemuda yang berada diatas mobil pick up tadi. Tidak semudah yang ia duga pemuda tersebut menolak permintaanya dan mengatakan, ”Saya pimpinan aksi hari ini dan saya yang berhak menentukan siapapun yang akan berorasi, jika bapak ingin orasi atau berbicara maka akan saya tanyakan dulu kepada seluruh massa aksi, apakah mereka mau mendengarkan atau mengizinkan bapak untuk berbicara disini”. Beberapa detik kemudian terdengar suara massa aksi secara serentak menjawab, ”Tidakkk!!”.

Tanpa memerlukan aba-aba terlebih dahulu petugas tidak berseragam yang datang bersama Gubernur Alex Noerdin sebelumya—diduga sebagai ajudan Gubernur—tahu apa yang harus mereka lakukan melihat kondisi seperti itu. Dengan cepat memegangi badan pemuda yang yang ternyata adalah koorditar aksi hari ini dan beberapa oknum lainnya merebut mic yang ada ditangannya. Tak lama berselang terdengar suara Gubernur Alex Noerdin bertanya kepada masa aksi, ”Siapa yang membawa kalian? Kemudian dijawab oleh peserta aksi secara serentak, ”WALHI”. Setelah mendengar jawaban massa aksi lalu Gubernur Alex Noerdin pun kembali berkata ”Apakah bisa WALHI menyelesaikan kasus-kasus kalian?”

Tak lama kemudian seorang aktifis yang juga mengorganisir aksi hari ini mendekati Gubernur Alex Noerdin, menyalami beliau serta mencoba untuk memperkenalkan diri dan mengatakan, ”Jika bapak Gubernur berkomitmen untuk membahas persoalan masyarakat yang hari ini berunjuk rasa kita perlu duduk bersama untuk membahasnya”. Belumlah ia selesai berbicara, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh ajudan Gubernur yang diikuti petugas Pol.PP. Selanjutnya sekelompok preman dan petugas kepolisian lainnya yang sebelumnya telah berada mengelingginya pun ikut membantu hal tersebut. Melihat hal ini massa aksi menjadi berang dan mencoba menyelamatkannya. Bentrokan pun terjadi.

Beberapa orang mengalami luka-luka, diketahui Anwar Sadat (aktifis WALHI) mengalami luka diatas pelipis sebelah kanan, yang diduga dilakukan oleh oknum preman. Selain itu Dede Chaniago (aktivis SHI) juga mengalami pemukulan dibagian paha sebelah kanan, bahu, punggung dan kepala yang dilakukan oleh pelaku lebih dari 10 orang yang terdiri dari preman, ajudan Gubernur, Pol PP, polisi. Korban lainnya adalah Yuliusman (aktifis WALHI) yang mengalami pemukulan di bagian kepala. Kemudian Maisani seorang Petani dari Desa Kali Berau Kab. Muba yang mengalami cidera di bagian kaki akibat terinjak-injak dalam peristiwa bentrokan tersebut.

Setelah massa aksi kembali dapat terkonsolidasi, aksi kemudian tetap dilanjutkan ke kantor BPN Sumsel yang letaknya tak jauh dari tempat titik massa berkumpul. Dan di temui oleh kepala BPN Sumsel,yang dalam janjinya akan segera menyusun agenda untuk menyelesaikan kasus kasus Agraria yang dialami oleh para petani. Setelah selesai menggelar aksinya, peserta aksi kemudian kembali ke Gedung Olah Raga Palembang dan membatalkan agenda menggelar aksi di kantor Gubernur Sumsel.

Seperti apa yang dituturkan oleh salah satu organisator aksi Hari Tani Nasional di Palembang kepada kami, bentrokan yang terjadi pada hari ini sejalan dengan intimidasi yang datang dari berbagai pihak untuk menggagalkan rencana aksi hari ini. Sebuah pola-pola klasik dalam menjawab berbagai permasalahan yang ada oleh mereka yang telah kita pilih menjadi wakil dan pemimpin kita. Masihkah kita akan mengulang sejarah ini?
Mobil truk yang membawa para petani dari berbagai daerah
Berbagai tuntutan yang dibawa petani
Berbagai tuntutan yang dibawa petani
Pengambilan paksa mic koordinator aksi
Kedatangan Gubernur yang memaksa untuk bicara
Bentrokan peserta aksi dengan aparat
Salah satu korban pemukulan
(di dahi) oleh aparat
Aksi di kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional) Sumsel
Peserta Aksi para petani dari berbagai daerah Sumatera Selatan