Apa Yang Saya Pikirkan Tentang D.I.Y

D.I.Y :  Sebuah Kolase Sejarah
Dahulu masyarakat primitif membuat berbagai macam kebutuhannya sendiri. Mulai dari alat untuk berburu dan bercocok tanam, api untuk memasak, pakaian, dan banyak hal lainnya, karena tidak ada pilihan lain selain membuatnya. Pada saat itu tidak ada industri yang memproduksi barang-barang kebutuhan. Tidak ada iklan dari produk-produk industri. Pada perkembangannya mereka mulai mengenal sistem barter. Dimana setiap kelompok dapat saling menukarkan apa yang dihasilkan kelompoknya dengan kelompok lainnya. Mereka yang menanam biji-bijian dapat menukarkan kelebihan yang ia miliki dengan kebutuhan lainnnya yang dihasilkan oleh kelompok suku lain seperti kain atau hewan ternak. Hal ini kemudian hancur dengan perkembangan kemajuan dari alat produksi yang dimiliki --semakin nyata pada era revolusi industri. Salah satunya adalah penggunaan logam besi dalam alat pertanian. Orientasi produksi yang awalnya digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan kelompok, jika ada kelebihan hal tersebut digunakan sebagai cadangan makanan ataupun untuk ditukarkan dengan kebutuhan lainnya berubah menjadi produksi massal yang membutuhkan banyak tenaga kerja jauh lebih banyak diluar apa yang dibayangkan. Dan jawaban untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah perang! Perang untuk menundukkan suku lainnya yang kemudian dapat digunakan sebagai budak pekerja.

Begitu juga dengan masyarakat yang ada di pedesaan. Banyak kebutuhan yang mereka produksi sendiri. Seperti mengubah batok kelapa menjadi berbagai macam perlengkapan memasak. Memanfaatkan sabut kelapa sebagai sponge untuk mencuci piring. Menggunakan tanah liat untuk membuat tungku memasak, menganyam bilah bambu untuk dinding rumah, pelepah nipah untuk membuat tikar. Dan tentunya banyak hal lainnya yang dapat mereka produksi dari kedekatan mereka dengan alam sekitar serta kemajuan dari teknologi komunikasi yang belum dapat sepenuhnya berekspansi ke wilayah pedesaan apalagi ke daaerah-daerah terpencil. Belum lagi faktor dari pembangunan infrastruktur transportasi yang belum baik dan juga tidak merata yang lebih terpusat di wilayah-wilayah perkotaan. Tapi sekarang dengan meluasnya ekspansi dari kemajuan teknologi komunikasi yang telah berhasil merambah wilayah-wilayah pedesaan bahkan sampai ke wilayah-wilayah paling terpencil --kiita dapat melihatnya dari klaim yang di nyatakan oleh koporasi-korporasi seluler dan juga stasiun-stasiun tv bahwa mereka telah dapat di nikmati sampai kewilayah-wilayah terpencil. Selain itu mulai terbangunnya insfrastuktur transportasi yang baik yang dapat menghubungkan desa dan kota dengan lancar hal ini lambat laun mengubah pola produksi dan budaya masyarakat pedesaan. Kalo dulu mereka menggunakan sabut kelapa sebagai sponge untuk mencuci piring, sekarang mereka yang memiliki uang dapat membeli sponge yang terbuat dari plastik. Kalo dulu mereka dapat mengunakan bambu dan batok kelapa untuk membuat berbagai macam peralatan rumah tangga tapi sekarang mereka mendapat cara yang praktis untuk mendapat peratan rumah tangga dengan mulai melihat iklan-iklan di layar televisinya dan kemudian membelinya di toko-toko terdekat. Kalo dulu mereka menanami tanahnya dengan padi sehingga dapat memenuhi kebutuhan pokok pangan dan menjual sisanya untuk memenuhi kebutuhan lainnya, tapi sekarang mereka harus membeli beras untuk makan karena tanahnya tidak lagi di tanami padi melainkan kelapa sawit!
.

Antara akhir tahun 70-an sampai awal 80-an komunitas HC/PUNK mulai memperkenalkan DIY sebagai sebuah etos kerja. Dengan mulai melakukan pengelolaan sendiri pada proses recording band-band mereka, merchandise band, serta membangun jaringan distribusi mandiri yang mana hasil produksi dari setiap band ataupun komunitas dapat tersirkulasi dengan baik. Membuat media komunikasinya sendiri yang tidak tergantung pada pakem-pakem yang ada dengan memanfaatkan teknologi mesin foto kopi yang cepat dan murah sehingga tidak perlu tergantung dengan mesin cetak yang membutuh biaya yang besar dalam setiap produksinya, menggunakan teknik potong tempel dalam melayout majalahnya, menyebarkan semangat anti hak cipta sehingga setiap publikasi tersebut dapat meluas. Mengorganisir show band, aksi protes, pertemuan komunitas secara mandiri. Tetapi juga berkat kemajuan teknologi informasi semangat tersebut menyebar keseluruh pelosok dunia begitu juga Indonesia.

D.I.Y : Dari Individualitas menuju Kolektifitas
Kita lahir dalam keragaman. Kita dapat mulai melihatnya dari diri kita sendiri dan kemudian berlanjut kepada teman-teman yang ada di sekitar kita. Setiap dari kita memiliki kencenderungan yang berbeda-beda yang tidak terbantahkan. Apa yang saya maksud dengan kecenderungan disini adalah ketertarikan yang melekat pada diri kita. Dimana hal ini yang mendorong kita untuk terus mempelajarinya,  karena kita merasa nyaman dengan hal tersebut, karena kita menyukainya. Dan hal ini juga yang akan membawa kita pada tingkat kemajuan yang akan terus berkembang. Contohnya seperti kamu yang tertarik pada dunia fotografi tentunya akan terus mencari tahu  tentang banyak hal mengenai fotografi. Kalo dulu awalnya kamu hanya mampu menggunakan kamera pocket biasa tapi lambat laun karena ketertarikan kamu yang luar biasa akhirnya kamu kini mulai mampu menggunakan kamera yang biasa digunakan oleh fotografer profesional dengan hasil yang tidak kalah bagusnya dengan mereka. Kamu akan terus mengasahnya sampai kamu merasa puas dengan apa yang kamu miliki. Tapi hal ini akan menjadi sangat berbeda ketika kamu mendapat bagian untuk membuat sebuah sketsa backdrop gigs yang yang sedang kamu organisir bersama teman-teman kamu. Kamu mulai tidak merasa nyaman dengan hal tersebut  karena kamu memang tidak menyukai hal tersebut dan tidak potensial untuk mengambil bagian dalam pembuatan sketsa tersebut. Seorang kawan dapat mendebat hal tersebut dan  berkata: "Kamu dapat mulai belajar tentang hal tersebut dan mungkin untuk melakukannya.” Kita memang mungkin dapat melakukan banyak hal dan memang kita harus belajar banyak hal. Tapi kita tidak bisa menghindar dari ketertarikan yang ada pada diri kita dan dari sinilah  kita semua dapat melihat potensi apa yang ada dalam diri kita. Kamu mungkin dapat mengerjakan sketsa backdrop tersebut tapi ini tidak akan menjadi lebih maksimal jika ia dikerjakan oleh teman kamu yang memang menyukai proses gambar menggambar.

Walau memang, diantara kita pun ada yang memiliki kecenderungan yang sama tapi hal tersebut tidaklah sama persis. Mereka yang memliki kecenderungan yang sama, seperti sama-sama menyukai proses gambar-menggambar akan berbeda pada karakter gambar yang dihasilkan. Kalaupun mereka dapat menghasilkan karakter gambar yang sama, mereka akan berbeda dalam beberapa hal misalnya dalam pewarnaan ataupun hal lainnya. Kamu dapat perhatikan sendiri hal tersebut. Dan hal inilah yang membuatnya menjadi menarik karena kita semua dapat saling berbagi kemampuan yang kita masing-masing miliki dalam mengerjakan banyak hal. Kamu dapat membayangkan sebuah tim yang mana didalamnya dihidupi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan siap untuk berbagi tugas dalam mengerjakan berbagai project yang telah kamu sepakati bersama.

Memang benar ada hal-hal yang dapat kita kerjakan sendiri, banyak hal yang dapat kita hasilkan sendiri. Tapi tidak semuanya dapat kita kerjakan dan hasilkan sendiri karena kita bukan Superman. Kamu dapat melihat hal tersebut dari berbagai hal yang kamu klaim sebagai usaha kamu sendiri, tapi apakah memang benar semuanya usaha kamu sendiri? Coba kamu perhatikan dengan seksama. Tidak bukan?! Dalam rekaman CD band yang kamu klaim sebagai usaha kamu sendiri dimana seluruh instrumen yang ada dalam musik yang kamu buat itu kamu sendiri yang memainkannya. Dari proses recording sampai mixingnya pun kamu sendiri yang melakukannya, tapi ternyata dalam berbagai hal bukanlah kamu yang mengerjakannya. Kamu dapat membuat desain cover bagi CD rekaman kamu tapi untuk urusan cetaknya ternyata kamu harus menyerahkanya ke percetakan dengan berbagai alasan mulai dari ketidak mengertian kamu pada persoalan cetak mencetak, tidak adanya alat produksi, atau juga pada persoalan kualitas dan ke-ekonomisan pengerjaannya jika dilakukan dipercetakan. Begitu juga dalam persoalan penggandaan CD, kamu sendiri dapat melakukan hal tersebut dengan PC yang ada dirumah, tapi ternyata kamu harus membeli CD blanknya karena kita belum dapat membuat sendiri CD blank. Mungkin sekarang kamu mulai menganggap saya gila dan terlalu mengada-ada. Tidak! Saya cuma ingin menjelasakan bahwa tidak semua dapat kita lakukan sendiri dan tidak semuanya dapat kita hasilkan sendiri. Kita hanya dapat melakukan beberapa bagian dari proses kita untuk mencapai ataupun menghasilkan sesuatu, tapi untuk hal-hal lainnya kita membutuhkan peran serta orang lain.

Sebuah bentuk kerja sama dengan orang-orang diluar diri kita sangatlah kita butuhkan dalam melakukan banyak hal. Ini adalah sebuah ruang bagi kita untuk dapat mulai melihat potensi yang ada pada diri kita dan kemudian teman-teman yang ada di sekitar kita untuk dapat mulai berbagi kemapuan yang kita miliki satu sama lain dalam mengerjakan banyak hal. Dengan semua ini kita semua dapat mulai mengurangi ketergantungan kita pada orang-orang yang hanya ingin menarik keuntungan dari semua yang kita kerjakan tanpa peduli apa yang sedang kita kerjakan. Mereka semua bukanlah teman-teman kita tapi pemilik modal (baca: kapitalis) yang hanya ingin menumpuk keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.

Banyak hal yang dapat mulai kita kerjakan bersama dari keragaman yang kita miliki. Seperti keberuntungan ekonomi yang juga menjadi hal yang membedakan kita satu sama lainnya yang merupakan output dari sistem ekonomi barbar yang kita hidupi sekarang ini. Sebagian dari kita hidup cukup beruntung dari yang lainnya karena memiliki pekerjaan dan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya atau malah dapat menyisihkan penghasilan untuk di tabung. Sebagian lagi dari kita memiliki perkerjaan tapi  tidak memiliki penghasilan yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari yang mana kadang kala harus mencari penghasilan tambahan dari pekerjaan tetap yang kita lakukan. Sebagian dari kita menjadi cukup beruntung karena berasal dari keluarga menengah atas yang cukup sandang pangan dan berbagai fasilitas lainnya. Sebagian lagi adalah mereka yang tidak cukup beruntung karena bukan berasal dari keluarga menengah atas, tidak memiliki pekerjaan tetap, berpenghasilan tidak menentu bahkan mungkin juga tidak memiliki penghasilan. Tapi kondisi buruk dari ketidak merataan ekonomi ini bukanlah jalan buntu bagi dunia yang lebih baik bagi kita. Dan kita tidak mesti terus terjebak dalam sistem ekonomi barbar yang sarat akan kompetisi dimana yang kuat jadi pemenang dan yang lemah jadi pecundang. Kita dapat memulai sebuah sistem ekonomi kita sendiri dengan mulai saling berbagi apa yang kita miliki untuk memulai sebuah project bersama diluar sistem ekonomi barbar saat ini. Dimana semua yang hadir dapat berdiri sejajar dalam mengemukakan pendapat dan dalam mengambil keputusan. Kita semua harus meninggalkan pola-pola hirarkis yang diterapkan oleh  kelompok-kelompok ekonomi besar seperti WTO, Bank Dunia, dan berbagai jenis lembaga lainnya yang hanya memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang memiliki fasilitas dan modal yang kuat untuk menentukan posisi tawarnya.

Mereka yang memiliki penghasilan berlebih dapat menyisihkan dananya sebagai donasi ataupun pinjaman tanpa bunga tentunya, yang dapat digunakan sebagai modal usaha. Mereka yang memiliki berbagai fasilitas dapat meminjamkan ataupun memberikannya fasilitas yang ia miliki. Kita dapat menentukan pilihan dari melihat seberapa penting dan mungkinnya hal itu untuk dilakukan. Mereka yang tidak memiliki pekerja dan mereka yang memiliki penghasilan kurang dapat mulai mencari ide untuk membuat usaha dari modal dan fasilitas yang ada. Membangun sebuah kolektif ekonomi memang tidaklah semudah menuliskanya. Tapi kita dapat mencobanya agar kita dapat mengetahui apa yang harus kita pikirkan dan lakukan kedepannya.

Hal lainnya yang dapat kita coba kerjakan bersama seperti membuat kelas-kelas keterampilan, kelompok diskusi, ataupun sekolah jalanan. Ini semua dapat berawal dari berbagai macam latar belakang pendidikan yang kita miliki. Setiap dari kita juga memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ini bukan hanya masalah latar belakang pendidikan formal seperti lulusan SMA atau Sarjana tapi ini juga menyangkut pendidikan non formal yang kita miliki. Kita semua tahu, banyak hal yang memuakkan dari sistem pendidikan yang kita miliki sekarang ini. Pola belajar yang satu arah dimana tugas kita hanyalah sebagai konsumen yang baik dan mereka sebagai produsen yang brengsek.

Tapi kita dapat memulai sebuah alternatif dari busuknya dunia pendidikan kita. Mereka yang memahami banyak hal dalam dunia desain grafis dapat membuat kelas desain grafis bagi teman-teman kita yang harapannya mereka dapat membuat sendiri desain bagi berbagai kebutuhan mereka seperti kaos band, poster pentas teater mereka, ataupun bagi usaha sablon menyablonnya. Mereka yang memiliki kemampuan bahasa asing dapat memulai kelas bahasanya, seperti kelas bahasa inggris. Mereka yang memahami banyak hal soal ekonomi dan politik dapat mulai saling berbagi teman-teman lainnya dengan membangun kelompok diskusi. Yang harapannya kita semua masing-masing mulai dapat menganalisa sendiri tentang perkembangan ekonomi dan politik tanpa harus terus terpaku dengan media mainstream, pada pakar-pakar ekonomi, pada pemerhati politik yang mana kita semua tahu kebanyakan dari mereka hanya menjadi alat bagi kekuasaan.
Banyak sekali hal yang dapat mulai kita kerjakan bersama teman-teman kita dari keragaman yang kita miliki. Kita dapat mulai melihatnya dari diri kita dan kemudian sekeliling kita. Saling berkomunikasi satu sama lain, bertukar ide-ide yang sedang kita pikirkan, menyusun rencana bersama, berbagi tugas sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, kemudian memulai project-project yang sudah kita rencanakan. Kita semua dapat saling belajar untuk mengembangkan diri kita masing-masing, membangun komunitas kita, lingkungan kita, dan tentunya juga masyakat kita.

D.I.Y : Aksi Langsung Melawan Kapitalisme
Kapitalisme adalah sebuah sistem yang hidup dari mengambil nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja. Nilai tersebut didapat dari kerja keras para pekerja dalam memproduksi banyak hal dimana para pekerja hanya mendapatkan bagian yang sangat kecil dari yang didapatkan oleh majikan mereka padahal mereka merupakan faktor pokok produksi. Selain itu juga sistem kapitalisme memiliki karakter produksi yang absurd, dimana sesuatu tidaklah di produksi sesuai kebutuhan tapi sesuatu itu diproduksi sebanyak mungkin (baca: massal) dan juga orientasi dari produksi tidak lagi pada pemenuhan kebutuhan tapi telah berlanjut pada pembuatan kebutuhan baru demi meraup yang lebih banyak lagi keuntungan. Dan hal ini jugalah yang mendorong pembengkakkan pada ongkos produksi dimana dibutuhkan pilar penunjang yang lain dengan biayanya tidaklah murah yaitu: periklanan. Demi kekuasaan atas pasar, demi akumulasi kapital.

Tugas dari sebuah iklan adalah membentuk sebuah image dari sebuah produk dimana ia akan menyatakan dirinya layak untuk dapat dimiliki setiap orang. Yang akan mendorong hasrat untuk mengkonsumsi pada level yang paling mengerikan. Sehingga apa yang ada di benak kita adalah membeli dan membeli tanpa dapat dengan baik memilah-milah apakah hal tersebut memang kita butuhkan atau tidak. Apa lagi untuk dapat berlanjut pada semangat untuk berproduksi sendiri. Jingelnya hanya satu; beli-beli dan beli.

Dari produksi yang massal ini, selain akan mengakibatkan over produksi dimana hal ini juga yang memicu terjadinya krisis ekonomi dikarenakan tidak berhasilnya menemukan pasar yang dapat mengkonsumsi produksinya atau juga kalah bersaing didalam pasar tersebut dengan produk-produk yang lain. Model produksi ini juga menjadi salah satu penyebab kehancuran bagi lingkungan serta kematian yang disebabkan oleh masifnya eksploitasi sumber daya alam demi memasifkan kuantitas produksi dan orientasi pada peningkatan keuntungan yang terus berlipat-lipat. Seperti penebangan hutan yang gila-gilaan demi menyiapkan bahan baku untuk berbagai macam kertas atau berbagai macam barang kebutuhan lainnya seperti furniture. Penggunaan berbagai macam bahan baku plastik untuk berbagai macam kebutuhan yang satu kali pakai seperti bungkus makanan, kantong plastik, botol-botol bagi berbagai macam produk shampo dan sabun, atau berbagai macam bentuk yang dapat kita temui disekitar kita yang mendorong penumpukan sampah plastik yang tidak mudah terurai. Dalam industri pertanian kita dapat melihat pengembangan berbagai pestisida dan herbisida yang berbahaya tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga bagi keshatan kita. Pengembangan berbagai bibit yang tahan hama yang ternyata dalam waktu jangka panjangnya memiliki efek sangat berbahaya bagi kesehatan jika di konsumsi seperti: keracunan pada sistem pecernaan, kerusakan hati, berbagai jenis alergi, dan juga tingkat kematian yang tinggi, dan lain-lain. Pada produk makan kita dapat melihat bagaimana produsen-produsen susu formula mendorong ibu-ibu untuk tidak memberikan ASI ke pada bayinya dengan berbagai alasan seperti: seperti image bahwa memberikan ASI pada saat ini telah ketinggalan jaman, atau juga susu formula juga sama dengan ASI jadi lebih praktis tentunya. Tapi pada kenyataannya hal ini meningkatkan tingkat kematian bayi karena susu formula tidak mengandung anti bodi yang dimiliki oleh ASI yang sangat dibutuhkan oleh bayi. Tapi tentunya banyak lagi hal lainnya yang dapat mulai kita amati di lingkungan sekitar kita yang merupakan output buruk dari sistem kapitalisme. Seperti juga fenomena manusia-manusia yang gila belanja, yang menganggap belanja sebagai sebuah bentuk rekreasi untuk sekedar melepas penat dari rutinitas kerja. Yang membuat hidup hanya bermuara pada bekerja dan mengkonsumsi. Semakin banyak barang yang kita konsumsi semakin banyak waktu kita yang tersita oleh kerja.

Lalu pertanyaannya sekarang apa hubungan semua ini dengan resistensi yang dibawa oleh semangat D.I.Y? D.I.Y membicarakan tentang kerjasama kemandirian sedangkan kapitalisme sendiri kapitalisme membicarakan tentang eksploitasi dan ketergantungan. Dari sini kita dapat memulai sebuah resistensi dari lingkup terkecil kita. Mulai dari seorang ibu yang tetap memberikan ASI kepada bayinya dan tidak terpengaruh oleh iklan-iklan dari susu formula. Proyek-proyek pembuatan pupuk kompos yang tentunya lebih ramah lingkungan ketimbang pupuk kimia. Proyek-proyek pendaurulangan sampah untuk menjadi berbagai barang kebutuhan yang dapat menjadi sebuah solusi bagi penumpukan sampah. Membuat sendiri berbagai macam kebutuhan kita yang mungkin untuk kita produksi tanpa harus membelinya di outlet-outlet para korporat. Memasak air minum kita sendiri. Dan tentunya banyak hal lainya yang dapat  kita coba lakukan sendiri ataupun bersama teman-teman kita.