Read what u Write, Write what U read

"Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan."
-Goenawan Mohamad-

Belakangan ini saya tak sempat untuk menghanyutkan diri dalam lautan kata di buku. Saya terjebak masalah klise, yaitu waktu luang. Pun saat saya menyumbang tulisan untuk zine ini, saya berpacu dengan waktu yang minim. Pilihan ada dua: segeralah tidur atau menulis. Lantas, saya pilih hal kedua, menulis. Menulis tentang hal yang cukup akrab dengan saya: baca-tulis.
Ingatan saya melambung jauh ke masa saat tangan kecil saya mengenggam Bobo. Ya, majalah inilah awal mula pertemuan saya dengan bahasa, gambar, dan imajinasi. Saya pun belajar bahasa bersama coreng,upik, putri Nirmala, dan Paman Gembul. Saya bisa melompati segala dunia lewat baca, meski gerak terbatas, alias diam di tempat.
Sejak kecil, saya lebih tertarik bacaan fiksi dibanding nonfiksi. Entahlah, saya tak suka dengan ilmu pasti, saya lebih suka berfantasi. Membayangkan bagaimana serunya petualangan lima sekawan atau saat mereka sedang beraksi yang ditulis Enid Blyton. Atau betapa deg-degannya saya saat baca buku Ghost Bumps yang bersampul spooky itu. Fiksi menurut saya lebih kaya secara fantasi.

Lama-kelamaan membaca jadi hobi. Saya definisikan hobi sebagai suatu hal yang bertransformasi jadi kebutuhan. Ya, saya butuh baca, saya butuh bertemu buku. Jika kamu merasa sama seperti saya, yang sering dahaga akan buku, maka kamu pasti paham betul bagaimana bahagianya membaca. Awal kuliah, pertemuan saya dengan bacaan semakin luas. Intensitasnya pun cukup tinggi. Saya seperti kelaparan, melahap semua yang tersaji di depan mata. Saya seperti pelancong yang menjelajahi tiap tempat yang ia suka. Kadang, saya bertandang ke sastra pop. Kadang pula saya hijrah ke bacaan yang rada feminis. Ayayaya betapa asyiknya membaca!

Tapi, saya tidak ingin jadi pembaca pasif. Adalah sebuah gerak reflek, menurut saya, saat orang mulai gemar membaca maka ia pun gemar menulis. Ya, dua hal ini punya hubungan yang erat. Dan biasanya, dua hal inilah yang lebih membuat hidup jadi bermakna. Saya tidak pernah nulis serius. Menulis adalah pelarian buat saya. Saya tumpahkan semua perasaan dan asa dalam kata. Saya tak ingin apa yang dirasa mengambang begitu saja di udara. Tidak, saya perlu mengikatnya, saya perlu bicara dengan jiwa sendiri. Melalui apa? Tulisan. Karena, lagi-lagi menurut saya, hidup itu sarat dengan moment. Saya ingin menghargai setiap detik dalam hidup ini melalui tulisan. Meski singkat, setidaknya saya mencipta. Meski pendek, setidaknya saya ikat ide saya agar tak kemana-mana dalam tulisan. Meski sederhana, saya berkarya. Ya…seperti tulisan yang kamu baca sekarang ini.

Salam Malam di pengujung Lelap. (Selalupa)