Hanya Sebuah Dengus Resah

Oleh : Farid Amriansyah
Tanpa berpihak atau membela ataupun tak suka,  secara komunikasi politik, Ahok melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apalagi dalam ranah yang medan tempur politiknya penuh tebaran ranjau paku ala tukang tambal ban. Namun, masalah tersebut bisa diproses secara hukum dengan semua tahapannya bila memang memenuhi semua aspek untuk menjadi sebuah kasus hukum. Terlepas dia minoritas atau bukan Ia pun sebagai warganegara memiliki hak untuk sebuah proses peradilan yang adil. Karena setahu saya Indonesia kabarnya negara Hukum bukan negara Norma. Walau, kadang hukum pun adalah sebuah ajang penuh permainan, bukan berarti kita juga punya hak untuk main hakim sendiri.   

Penuh Hari Kebosanan

Oleh : Adam Sandro
Menyoroti permasalahan pendidikan yang sedang terjadi di negeri ini. Ada pertanyaan yang mengambang di benak saya dan ini sebenarnya pertanyaan yang sangat klise : sudah layakkah pendidikan di negeri ini? Tentunya jawaban dari setiap pertanyaan merupakan suatu hal yang relatif bagi setiap orang. Menurut saya pribadi pendidikan di negeri ini sangatlah belum layak, ada banyak sekali faktor yang membuat pendidikan itu sendiri belum layak melalui kacamata saya ataupun mungkin orang lain, namun bukan faktor itu yang akan jadi pokok bahasan dalam tulisan saya ini.

Jika diibaratkan pendidikan di negeri ini seperti perjudian yang memakan waktu, menunggu waktu yang lama dan menaruhkan segalanya untuk sebuah kemenangan yang belum tentu di dapat kelak. Namun sebagian besar para gamblers ini terlanjur menyalam dengan basah kuyub bak tikus tercebur parit.

Kontradiksi Mao

Oleh : Teorem4
Pada bagian pendahuluan, Mao memaparkan bahwa hukum kontradiksi dalam hal-ihwal, yaitu hukum persatuan dari yang bertentangan, adalah hukum yang paling pokok dalam dialektika materialis. Lenin berkata, “dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakikat dari hal-ihwal”, dan menyebut hukum ini ‘hakikat dialektika’ atau ‘inti dialektika’. Karenanya, menurut Mao, dalam mempelajari hukum ini kita harus membicarakan hal-hal yang meliputi cakupan yang luas dan persoalan-persoalan filsafat yang jumlahnya teramat banyak. Apabila persoalan-persoalan tersebut dapat dijernihkan maka kita akan sampai pada pemahaman yang pokok tentang dialektika materialis. Persoalan-persoalan tersebut akan dijabarkan dalam keseluruhan teks Kontradiksi.


Menelan Ludah, Wahai Identitas

Oleh : Junior Zamrud Pahalmas

Bagaimana kita dapat mengetahui suatu korelasi antara pandangan relijius dengan suatu pergerakan sosial yang sifatnya sangatlah duniawi? Jika apa yang diperdebatkan adalah urusan bumi dan langit, tentu institusi agama sangat lah begitu rumit untuk dapat dibahas. Terlalu panjang dalam mengkajinya. Namun penilaian itu belakangan ini sedikit terjebak dalam ruang lingkup identitas. Ya, cukup di identitas itu sendiri. 

Kita tahu, tidak ada yang salah dalam cara mengapresiasikan diri dalam suatu bentuk abstraksi tubuh untuk memahami dunia tersebut. Dari kalangan yang menyukai atribut tertentu demi merepresentasikan dirinya dimuka khalayak. Identitas ini akan condong lebih kedepan ketimbang nilai-nilai yang ada pada seseorang sebagai bentuk pengenalan diri. Bagaimana seseorang menggunakan boots Dr. Martens-nya sebagai sepatu kejayaan dengan vest penuh patch band kesukaan serta t-shirt orisinilnya dalam menyampaikan identitas, serta fashion lainnya yang mencirikan identitas tertentu, atau bahkan simbol-simbol tertentu atas ajaran kepercayaannya masing-masing.

Panen Raya Air Sugihan


Pada tanggal 15 Mei 1981, masyarakat transmigrasi tiba di Kecamatan Air Sugihan  Desa Nusantara Kabupaten OKI,. Desa ini mempunyai luas sekitar 2.000 Ha dan di bagi menjadi 2 blok, yaitu blok K dan blok I, terbelah oleh sungai jalur 29. Jumlah penduduk Desa Nusantara ± 600 KK, 2450 jiwa. Penduduk Desa Nusantara merupakan masyarakat transmigrasi yang mayoritas suku jawa. Bertani/sawah adalah pekerjaan masyarakat Desa Nusantara dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Desa Nusantara merupakan salah satu Desa, eks proyek transmigrasi yang didatangkan oleh pemerintah Orde Baru , Nama desa Nusantara diambil dari nama perusahaan yaitu PT Nusantara Wiraputra , perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yg pernah ada di jalur 27 UPT ( unit pemukiman transmigrasi )di Blok K dan Blok I.

Dari tahun 1995 masyarakat Desa Nusantara beramai – ramai memanfaatkan dan mengelola lahan APL yang  ketika itu masih berupa lahan rawa gambut dalam. Dengan semangat dan  tekad untuk memajukan kehidupan sosial ekonomi – masyarakat bekerja keras menjadikan areal tersebut menjadi lahan produktif.  Perjuangan ekonomi itu tidaklah mudah didapatkan oleh masyarakat, karena berhubungan dengan permodalan, teknologi dan hama (babi hutan dan tikus) yang kerap mengganggu usaha pembukaan dan penggarapan lahan, namun keadaan tersebut tidak menyurutkan kegigihan masyarakat transmigasi untuk mengelola lahan tersebut menjadi lahan yang bermanfaat.