Anarkis Feminis: Dengan Cinta dan Menari

Oleh Moehammad Setiawan

Tulisan ini kami sadur atas izin Metamorphoo langsung, seharusnya diposting terlebih dahulu di blog mereka, karena blog mereka sedang perbaikan. Kami inisiasi posting di sini terlebih dahulu. Catatan ini adalah notulen personal dari salahsatu buruh kami yang hadir di kelas Hari Perempuan Metamorphoo Maret lalu. -- Redaksi.
Buruknya terjebak dalam berbagai rentetan rutinitas adalah salahsatunya sering lupa pada momen-momen tahunan. Saya hampir lupa kemarin dengan hari Perempuan Sedunia, itu diperingati kawan-kawan tiap tahun, kawan-kawan lain di kelompok luar lingkar selalu tak ketinggalan, pematok ingat saya adalah mereka, tapi itu kadang sudah mepet pun, beberapa hari sebelum. Di lingkar terdekat, beberapa tahun terakhir ada kelompok perempuan Metamorphoo, mereka yang jadi ambil bagian penuh pada peringatan tahunan ini. Begitu pun tahun ini, mereka mengemasnya sangat berani walau dengan berbagai keterbatasan, memperingatinya dengan rangkaian pameran dan kelas 1 minggu penuh. Walau memang tak tepat pada tanggal yang persis, tahun ini mereka menorehkan warna baru pada pengulangan.
Saya dan beberapa kawan terdekat sudah mulai menyepakati momen tahunan seperti ini sebagai peringatan, tak pernah lagi menyebutnya perayaan sejak parade penolakan harga minyak terakhir memenuhi sudirman, mengancam McDonald. Jika memang disebut perayaan, apa pula yang dirayakan, jika ada pilihan, mencatat kekalahan dengan keras toh lebih relevan dibanding terjebak di perayaan-perayaan kecil kemenangan. Beda konteks, beda variabel. Mewakili semua momen, kenapa peringatan adalah kata yang tepat tak lain dan tak bukan jika memang ada yang harus diingat, ketimbang dirayakan. Apa yang terjadi hari ini berpuluh tahun silam dan akhirnya menjadikannya perlu diingat. Tonggak sejarah apa, tapak sejarah yang bagaimana. Semenjak memang melawan lupa menjadi begitu konkrit.

Diroad dan Relevansi yang Dibawanya

Oleh Moehammad Setiawan


Malam itu Diroad naik panggung dengan pemain inti lengkap. Selengkap-lengkapnya, senjata penuh [1]. Mereka menutup rangkaian pameran & kelas memperingati Hari Perempuan International oleh Metamorphoo Palembang [2]. Diroad menutup 1 minggu rangkaian kegiatan tersebut dengan begitu mengesankan.

Beberapa bulan lalu, teman saya Rylian punya projek menarik. Di sela kesibukannya sebagai dosen sekarang, dia berniat merangkum musik melayu sumatera dengan pintu masuk Semakbelukar [3]. Sama seperti saya dan kebanyakan lainnya, Rylian mendapati hal yang begitu menarik dengan kemunculan Semakbelukar dan melayu yang dibawanya. Terlebih lagi ada korelasi yang kuat antara tempat dia yang mengajar dan apa yang mau dia tunjukkan dari grup musik melayu ini sendiri. Sebelum fenomena grup musik melayu ini menjadi begitu besar dan membuka banyak pintu lagi akan eksplorasi atas apa yang dilakukan David Hersya dkk; Mereka keburu membubarkan diri, benar-benar menghilang dan menolak bentuk publikasi apapun setelah mereka bubar [4]. Kemunculan mereka hanya sekali setelah pengumuman bubar, itu pun dalam bentuk penolakan keras terhadap penggunaan karya mereka yang kurang mereka sepakati [5]. Masalah menutup diri dan menhilang ini pun lantas juga dihadapi oleh Rylian, Rylian bisa dibilang akhirnya hanya sedikit menemukan jejak dari Semakbelukar, malah bisa dibilang gagal untuk melakukan reportase mendalam terhadap mereka. Di tengah proses pengumpulan informasi itu, Diroad muncul membawa nyawa yang sama. Pintu masuk lain Rylian muncul. [6]

Tentang Cinta

Oleh Junior Zamrud Pahalmas

Banyak cerita oleh siapapun yang pernah merasakan cinta, bahwa cinta itu sendiri sangatlah ajaib untuk dapat dicerna. Beragam kompleksitas dalam memahami cinta adalah bagian dari bagaimana hidup itu diwarnai dengan tinta yang bermacam rupa. Tentu jatuh cinta itu tidaklah biasa-biasa saja. Perasaan akan menjadi lebih baik dengan kehadiran cinta itu ada, ataupun sebaliknya. Hingga sesampainya fase menjalani sisa-sisa hidup dalam berumah tangga, membangun keluarga lalu lenyap dimakan usia. Ada pasanganmu yang akan terus mendampingi naik-turunnya persoalan hidup. Mencintai pasanganmu adalah bagian terbaik dalam cerita panjang yang pernah tertorehkan, bukan?

Wacana mengenai cinta terhadap pasangan ini tidak membenarkan secara sepihak bahwa hidup dalam berpasangan adalah pilihan yang paripurna. Membingkai dalam berpasangan tidak juga harus berlawanan jenis. Berpasangan dapat ditempuh melalui sesama jenis, atau bahkan menghapus segala unsur yang bersifat binary dalam jenis kelamin (queer), misalnya laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin, serta lain sebagainya. Siapapun itu, pilihan terbaik adalah apa yang ia ketahuai untuk hidupnya sendiri.

Notasi Bunuh Diri


Oleh Adam Sandro

Bibik ku pernah menceritakan kisah bunuh diri terseram yang pernah kudengar, ketika seorang pemuda gantung diri di sebuah toilet gedung kosong karna ditinggal mati kekasih hatinya karena sakit parah. Belakangan beberapa hari setelah pemuda tersebut dimakamkan, ditemukan sepucuk surat wasiat di saku celana yang ia kenakan ketika bunuh diri. Surat itu bertuliskan “Makamkan aku disamping kekasih ku.” Sontak keluarga pemuda itu kaget, menggali kembali makam nya untuk kemudian di makamkan saat itu juga di samping pusara kekasihnya, sungguh tragik dan menyayat hati.

Dalam kultur Jepang kuno, bunuh diri dilakukan oleh seorang samurai yang kalah dalam bertarung atau berperang, maka sebelum ditangkap dan dipermalukan pihak musuh mereka melakukan ritual seppuku atau hara-kiri (menusuk katana pendek dan membelah perut sendiri hingga mati ). Di era Perang Dunia II pun, saat Jepang kalah perang melawan Amerika, banyak prajurit yang melakukan bunuh diri terutama pilot angkatan udara Jepang yang melakukan misi Kamikaze (misi bunuh diri dengan menabrakan pesawat ke kapal Amerika), seperti yang terjadi di film Pearl Harbour dan Eternal Zero. Bahkan hingga sekarang pun budaya bunuh diri ini masih popular di Jepang. Banyak dari mereka memilih lokasi sacral seperti di hutan Aokigahara di kaki gunung Fuji.

Suatu malam saya pernah menulis pertanyaan dibuku harian sendiri, mengenai mengapa orang-orang hebat macam Vincent Van Gogh, Ernest Hemingway, dan Kurt Cobain memilih mati dengan cara bunuh diri?. Bukankah mereka sudah di karuniai bakat luar biasa untuk menjadi legenda, terlepas dari itu semua pada kenyataanya sekarang pun mereka sudah menjadi legenda yang sangat menginspirasi banyak orang dengan warisan karya-karyanya. Ada banyak kisah menarik entah itu fiksi atau fakta yang akan saya ceritakan mengenai kematian tragis ketiga legenda tersebut.