Kruger Barbara dan Futura

oleh : Moehammad Setiawan

“Your Body is Battleground” menjadi phrase paling memorable untuk saya personal mengawali perkenalan dengan karya grafis hitam-putih, berbingkai merah, dengan tulisan tebal ditengah. Saya tak tau itu dari siapa, malah lebih diingat jika itu berasal dari kawan saya sendiri yang menjadikan karya itu jadi thumbnail tulisannya.

Selanjutnya saya baru tahu jika Barbara Kruger jadi biang dibalik poster itu. Yang jika ditelusuri selanjutnya karyanya memang berkarakter kuat, hampir punya benang merah jelas dari satu karya ke karya lainnya, selanjutnya lagi saya baru ketahui jika font yang dia gunakan adalah Futura. Cukup jauh selang waktu dari perkenalan pertama sebenarnya.

Bersejarah Tapi Tak Menyejarah

Oleh Ferdiansyah Rivai

Setidaknya sejarah menjadi penting bagi peradaban manusia karena ia memiliki fungsi cermin. Dengan memahami sejarah, manusia bisa mengetahui bagaimana asal-usul peradaban yang saat ini ia diami. Dengan memahami sejarah, manusia bisa melihat kesalahan apa yang pernah dilakukan nenek moyangnya dalam membangun peradabannya dulu. Dan dengan memahami sejarah, manusia bisa mencatat keberhasilan-keberhasilan apa yang pernah diraih para pendahulunya dalam membangun peradaban.

Layaknya cermin yang bisa membuat manusia sedih dan bangga, sejarah pun seperti itu. Kadang manusia sedih karena  melihat bagaimana nenek moyangnya harus menahan derita akibat ragam ketidakberdayaan. Namun kadang manusia juga bangga, karena tahu nenek moyangnya pernah berjaya membangun sebuah peradaban yang disegani orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Persis seperti bercermin. Ada kalanya manusia menangisi wajahnya yang barangkali sedang penuh noda, namun ada pula kalanya manusia bukan main bangganya dengan wajah tampan bersih dan berseri-seri. Intinya: sejarah dan cermin sama-sama berguna untuk evaluasi. Dan peradaban yang baik, adalah peradaban yang berani mengevalusi dirinya secara terus menerus.


Cinde, Kapitalisme, dan Kutukan Penghancuran Cagar Budaya

Oleh : Ahmad Subhan

Menyoal Pasar Cinde tak dapat dilepaskan dari konteks yang melingkupinya.

Lihatlah sekeliling Cinde yang mulai dikepung pencakar langit. Lihatlah tiang-tiang beton raksasa penopang liukan jalur kereta di atas kepala. Lihatlah pertumbuhan mal-mal dan hotel-hotel yang menjulang. Itulah simbol-simbol kemajuan dalam kepala kepala daerah yang bermimpi  bahwa masa gemilang pembangunan Palembang adalah pada masa kekuasaannya.

Beriringan dengan derap perubahan tersebut, seperti kerupuk di atas air, kota ini kian mengembang; menciptakan pemukiman-pemukiman baru di atas tanah-tanah talang. Di kawasan-kawasan pinggiran itupun berdiri mal-mal baru seperti satelit-satelit yang mengitari titik gravitasi perputaran uang di pusat kota. Dan dari pinggiran itulah, maupun sebaliknya, mengalir berdesak-desakan mobil dan motor yang menyemprotkan racun ke udara. Saban pagi dan sore, apalagi sehabis hujan, pemandangan dari atas jalanan (tengah maupun pinggiran) kota ini nampak seperti aliran lamban tumpukan sampah sepanjang sungai.

Hanya Sebuah Dengus Resah

Oleh : Farid Amriansyah
Tanpa berpihak atau membela ataupun tak suka,  secara komunikasi politik, Ahok melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apalagi dalam ranah yang medan tempur politiknya penuh tebaran ranjau paku ala tukang tambal ban. Namun, masalah tersebut bisa diproses secara hukum dengan semua tahapannya bila memang memenuhi semua aspek untuk menjadi sebuah kasus hukum. Terlepas dia minoritas atau bukan Ia pun sebagai warganegara memiliki hak untuk sebuah proses peradilan yang adil. Karena setahu saya Indonesia kabarnya negara Hukum bukan negara Norma. Walau, kadang hukum pun adalah sebuah ajang penuh permainan, bukan berarti kita juga punya hak untuk main hakim sendiri.   

Penuh Hari Kebosanan

Oleh : Adam Sandro
Menyoroti permasalahan pendidikan yang sedang terjadi di negeri ini. Ada pertanyaan yang mengambang di benak saya dan ini sebenarnya pertanyaan yang sangat klise : sudah layakkah pendidikan di negeri ini? Tentunya jawaban dari setiap pertanyaan merupakan suatu hal yang relatif bagi setiap orang. Menurut saya pribadi pendidikan di negeri ini sangatlah belum layak, ada banyak sekali faktor yang membuat pendidikan itu sendiri belum layak melalui kacamata saya ataupun mungkin orang lain, namun bukan faktor itu yang akan jadi pokok bahasan dalam tulisan saya ini.

Jika diibaratkan pendidikan di negeri ini seperti perjudian yang memakan waktu, menunggu waktu yang lama dan menaruhkan segalanya untuk sebuah kemenangan yang belum tentu di dapat kelak. Namun sebagian besar para gamblers ini terlanjur menyalam dengan basah kuyub bak tikus tercebur parit.

Kontradiksi Mao

Oleh : Teorem4
Pada bagian pendahuluan, Mao memaparkan bahwa hukum kontradiksi dalam hal-ihwal, yaitu hukum persatuan dari yang bertentangan, adalah hukum yang paling pokok dalam dialektika materialis. Lenin berkata, “dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakikat dari hal-ihwal”, dan menyebut hukum ini ‘hakikat dialektika’ atau ‘inti dialektika’. Karenanya, menurut Mao, dalam mempelajari hukum ini kita harus membicarakan hal-hal yang meliputi cakupan yang luas dan persoalan-persoalan filsafat yang jumlahnya teramat banyak. Apabila persoalan-persoalan tersebut dapat dijernihkan maka kita akan sampai pada pemahaman yang pokok tentang dialektika materialis. Persoalan-persoalan tersebut akan dijabarkan dalam keseluruhan teks Kontradiksi.


Menelan Ludah, Wahai Identitas

Oleh : Junior Zamrud Pahalmas

Bagaimana kita dapat mengetahui suatu korelasi antara pandangan relijius dengan suatu pergerakan sosial yang sifatnya sangatlah duniawi? Jika apa yang diperdebatkan adalah urusan bumi dan langit, tentu institusi agama sangat lah begitu rumit untuk dapat dibahas. Terlalu panjang dalam mengkajinya. Namun penilaian itu belakangan ini sedikit terjebak dalam ruang lingkup identitas. Ya, cukup di identitas itu sendiri. 

Kita tahu, tidak ada yang salah dalam cara mengapresiasikan diri dalam suatu bentuk abstraksi tubuh untuk memahami dunia tersebut. Dari kalangan yang menyukai atribut tertentu demi merepresentasikan dirinya dimuka khalayak. Identitas ini akan condong lebih kedepan ketimbang nilai-nilai yang ada pada seseorang sebagai bentuk pengenalan diri. Bagaimana seseorang menggunakan boots Dr. Martens-nya sebagai sepatu kejayaan dengan vest penuh patch band kesukaan serta t-shirt orisinilnya dalam menyampaikan identitas, serta fashion lainnya yang mencirikan identitas tertentu, atau bahkan simbol-simbol tertentu atas ajaran kepercayaannya masing-masing.