Organize! - Sharing Session & Tabling Routine



Pertama mendengar kalau di Prabumulih memulai tabling Food Not Bombs pertama mereka beberapa waktu lalu adalah seketika kami memutuskan untuk tabling di sana secepatnya. Tak ada niatan apapun, selain bertemu, bertatap muka langsung dan berkomunikasi juga berkegiatan bersama. Mendapati ada pengorganisiran Food Not Bombs lainnya di satu daerah yang tak jauh dari kami adalah kesenangan tiada tara lainnya.

Walau akhirnya harus tertunda karena beberapa kesibukan kami beberapa waktu lalu dalam agenda pendistribusian obat-obatan, untuk jangan sampai berlarut, menyempatkannya adalah penting, secepatnya ialah harus, ini pun sudah tertunda beberapa kali, tapi akhir Minggu ini, 26-27 Desember 2015, dalam 2 hari kami akan bersama mereka di Prabumulih.

Inisiasi awal hanyalah tabling bersama, sebagai agenda yang baiknya dijadikan rutinitas dari Food Not Bombs secara berkala, ajakan untuk juga ada satu sesi ngobrol yang cukup sistematis disamping dari obrolan santai yang kami pikir akan terus terjadi selama 2 hari kami di sana adalah cukup relevan untuk dihadirkan, pengorganisiran via mobile dengan mereka, mengimplikasi konsep masing-masing dengan kapasitas masing-masing sepanjang hampir 2 minggu berjalan cukup baik, tak menemukan cukup masalah signifikan, yah selain memang pertemuan langsung yang memang susah untuk dilakukan cukup menghambat di beberapa point.

Anti Massa: Metode Organisasi Untuk Kolektif dipilih sebagai materi sharing untuk akhirnya nanti kami elaborasi bersama setelah dipaparkan secara menyeluruh sebagai awalan, pamflet ini cukup penting sebagai salahsatu refrensi pondasi untuk kolektif-kolektif, yang dimana pengembangan dari pondasi ini adalah tantangan selanjutnya, karena dialektikanya akan bekerja dengan penerapan dan penyesuaian teori teori yang ada pada realitas paling faktual, supaya tidak bersifat mendikte, sebagai bahan kontemplasi agarnya dialektis.

Itu adalah materi pertama dari 2 materi pada sesi obrol-sistematis yang dimaksud diawal, yang keduanya adalah bicara tentang Food Not Bombs ini, dari sejarah internasional dan lokal, pengetahuan seputarnya, dan metodenya yang paling faktual dan efektif, pertanyaan besarnya: "Bagaimana memaksimalkan dan menjaga konsistensi dari gerakan pangan agar tidak bias dalam ide filantropis, atau kelompok revolusioner akhir pekan yang berumur pendek?" ato agar tak hanya menjadi aksi-aksi spontan yang tanpa menyasar isu kelas. Ini yang akan dielaborasi bersama nantinya.

Sisanya tentu dalam persiapan tabling, dari hunting, cooking, dan serving bersama keesokan harinya, tak terbayang menyenangkannya, tentu ini juga alasan betapi kami begitu excite dan impressive, dan kembali tersadar jika selalu ada kemungkinan untuk memperbesar lagi kemungkinan yang ada, semangat baru untuk membantu lagi bagian dari upaya besar meniup, meniup bara menjadi api.

Sampai bertemu kawan-kawan di Prabumulih!

Palembang & Prabumulih Food Not Bombs:
Organize!
Sharing Session & Tabling Routine

Prabumulih, December 26th - 27th 2015

Sharing Session:
Anti-Massa: Metode Organisasi Untuk Kolektif
Food Not Bombs: Pengorganisiran Pangan sebagai Gerakan Propaganda
Sabtu, 26 Desember 2015, 19.00-10.00

Tabling :
Jl. Jendral Sudirman, Masjid Arrafah, Prabumulih
Minggu, 27 Desember 2015, 17.00 - 20.00

Contact Person :
Weebie (081278455994)
Dio (089698667687)

Aksi Lanjutan Aksi Food Not Bombs x Brigade Palembang Melawan Asap


Ini merupakan pendistribusian obat yang terakhir; tapi tak mengakhiri banyak hal, siapa yang bisa memastikan tahun depan hal ini tak akan terulang lagi? Itulah kenapa tak ada alasan sedikitpun untuk merayakan usainya bencana ekologis di tahun ini, begitupun melawan asap sebagai salahsatu terminologi dari melawan akumulasi kapital. Dan ini pun akhirnya berlanjut..

Dengan tetap mengalirnya solidaritas dari kawan-kawan diluar Palembang - Sumatera Selatan, berupa bantuan obat-obatan, alat kesehatan, dan masker; akhirnya harus didistribusikan. Terima kasih teruntuk Morfem, Speak-Up, dan Sokola Alit Bogor yang kali ini mengirimkan bantuan tersebut.

Setelah melakukan survei dan pemetaan di beberapa pemukiman warga Daerah Aliran Sungai Musi, hingga ditemukannya RT.10 RW.04 Kel.Karang Anyar Kec.Gandus yang berseberangan langsung dengan pabrik pengantongan semen milik PT. Semen Baturaja dan pengepulan batubara milik PT. Bukit Asam, merupakan kejutan lainnya; mendapati bahwa mereka bukan hanya korban dari bencana ekologis tahunan, tapi juga korban dari tindak kejahatan korporasi atas nama akumulasi kapital dengan terpapar oleh polusi udara yang bercampur debu semen sepanjang tahun.

Dengan berfokus pada pendistribusian bantuan yang telah ada dan tak jauh berbeda dari dua sesi sebelumnya, maka untuk membuatnya lebih menyenangkan, beberapa kawan berinisiasi memasak bubur kacang hijau untuk dihidangkan selagi kegiatan di posko berlokasi di halaman Langgar At-Taqwa setempat berlangsung.

Terima kasih juga kepada Rumah Harapan Melanie Subono Jakarta, saudara Joni, saudari Eka, Ayah Asi Palembang, Home-Schooling Muslim Nusantara Semarang, saudari Lois Nur Fatriani Yogyakarta, Brigade Palembang Melawan Asap, serta kawan-kawan dan jejaring pertemanan yang tak dapat kami sebutkan satu per satu. Tetap Melawan. Tetap Berkomunikasi. Panjang Umur Solidaritas.

====================================================================

Food Not Bombs Palembang bersama Brigade Palembang Melawan Asap

IT'S NOT OVER!!

Aksi Melawan Kejahatan Korporasi Pembakar Hutan dan Ekspansi Perusak Lingkungan

Distribusi Obat-obatan dan Masker
Leaflet Edukasi
Tabling dengan menu : Bubur Kacang Hijau

Lokasi di RT.10 RW.04 Kel.Karang Anyar Kec. Gandus Kota Palembang
Minggu, 15 November 2015
Jam 14.00 - 17.00

Kontak : 081278455994

Silakan datang, tetap dengan ajakan untuk berpartisipasi dalam hal apapun. Untuk ikut membantu dalam bentuk apapun dan mengambil bagianmu sendiri. Posko akan berada di depan halaman Langgar At-Taqwa RT.10 Kel.Karang Anyar (pinggir sungai Musi), sampai bertemu di sana.

It's Not Over!


Melanjutkan sesi pendistribusian bantuan berupa obat juga beberapa jenis masker (Medis, N95, dan Masker Handmade) yang masih datang Minggu ini, melanjutkan edukasi bahaya asap dan kenapa serta bagaimana harus mengorganisir melawan "titik api"-nya, dengan turunnya hujan beberapa hari kemarin, kabut asap belum sepenuhnya menghilang, jika pun ini selesai tahun ini, tahun depan bagaimana? Jadi, tak ada alasan ini harus berhenti berlanjut sebenarnya.

Dengan tetap berfokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) sekitaran Kota Palembang dan pada kelompok masyarakat yang dirasa tak bisa mengakses alat kesehatan cukup baik, memilih daerah 9-10 Ulu Palembang bukan tanpa alasan, dan RT.34 yang dimana bebarapa RT sebelahnya tak bisa kami temukan data pasti karena pindah pasca penggusuran beberapa waktu lalu. Aksi minggu ini mungkin akan cukup santai banding yang terakhir, tak ubahnya tabling kami tiap bulannya, tapi kali ini bukan mendistribusikan makanan, melainkan obat-obatan dan beberapa jenis masker.

Cukup kaget ketika mendengar beberapa sudah terlena dengan euphoria hujan beberapa hari ini, bukan, bukan kami tak ikut senang, hayolah ini jugalah yang kami tunggu beberapa bulan ini, hujan ini yang kita tunggu sepanjang berkabut asap ini, tapi untuk akhirnya benar-benar berpikir ini selesai sepenuhnya adalah juga kesalahan lainnya lagi.

Ini ekspansi, tiap proses ekspansi baru untuk tiap tahapan barunya, mereka selalu membutuhkan hal semacam ini untuk membuka lahan-lahan baru, memulai ekspansi-ekspansi baru, dari Rembang sampai Kulon Progo, dari Pati sampai Bali, dari Salim Kancil hingga anak-anak yang meninggal dan jutaan orang yang terpapar asap, proses penghisapan terhadap air, tanah dan udara dibutuhkan guna akumulasi laba, proses pertumbuhan untung-rugi yang mereka sebut dengan bangganya sebagai pertumbuhan ekonomi merata, dan nyawa adalah hanya sebagian faktor pendukungnya juga.

Sangat senang ketika akhirnya matahari tak lagi tertutupi asap kemarin, senang pun tiada ketara ketika hujan mulai turun cukup deras kemarin, yang tak menyenangkan adalah mendapati jika kita tetap terkecoh dengan lapisan permukaan ketimpangan kapital, dan akhirnya kembali melupakan darimana semua ini berikhwal.

Kami pun sadar tak cukup kuat, tapi untuk tetap saling mengingatkan, untuk tetap menjaga kewarasan massal, akhirnya juga adalah sebuah aksi paling personal tersendiri. Untuk menjaga konsistensi pada jargon usang dan terus saling membisikkannya; bahwa dunia tak baik-baik saja.
---------------------------------------
Food Not Bombs Palembang bersama
Brigade Palembang Melawan Asap

It's Not Over!
Aksi Melawan Kejahatan Korporasi Pembakar Hutan dan
Ekspansi Perusak Lingkungan

Distribusi Obat dan Masker
Lifflet Edukasi
Happening Art

RT.34 Kel. 9-10 Ulu Plaju-Kertapati Palembang
Minggu, 1 November 2015
Jam 14.00 - 17.00

Kontak : Roy Kobra // 082178081070

Silakan datang tetap dengan ajakan untuk berpartisipasi dalam hal apapun. Untuk ikut membantu dalam bentuk apapun dan mengambil bagianmu sendiri. Posko akan berada di depan masjid setempat, cukup sederhana karena tak ubahnya tabling biasa, sampai ketemu di sana!

Ini Bukan Bencana Alam; Aksi Melawan Tindak Kejahatan Korporasi Pembakar Hutan


[PRESS RELEASE]

INI BUKAN BENCANA ALAM!


Muara dari semua ikhwal aksi protes kabut asap adalah kesadaran jika ini bukan bencana malam sebagaimana yang diaminkan oleh berbagai medium sekitar kita. Kabut asap adalah bencana ekologis yang dalam artiannya adalah bencana buatan manusia, untuk hal ini (kabut asap red.) disebabkan oleh pembakaran lahan oleh korporasi demi pembukaan lahan kembali ataupun lahan gambut baru.


Istilah Melawan Asap pun bermula dari #MelawanasAPP, mensimbolkan APP (Asian Pulp and Paper) dan anak-anak perusahaannya sebagai penyumbang kebakaran terbesar tahun kemarin bersama korporasi lainnya yang sebagian besar kelapa sawit. Dan karenanya, melawan asap adalah melawan korporasi-korporasi pembakar hutan.


Kabut asap terus berulang, terjadi terus menerus, tahun menahun, tak ada penyelesaian pasti dan tindak lanjut jelas dalam penanganannya, karena seperti yang dibilang sebelumnya, semua asal muasal titik api sudah diketahui dan penyebabnya pun tak juga tertutupi kabut, kita punya semua jawaban atas bencana tahunan ini, yang kita butuhkan akhirnya di titik ini adalah pertanyaan.

Dikirimnya beberapa bantuan obat-obatan dan masker dari Rumah Harapan Melanie Jakarta yang akhirnya disusul oleh bantuan juga dari Medan (juga beberapa titik lain yang sudah konfirmasi tapi belom tiba bantuannya) akhirnya  menginisiasi aksi kali minggu ini, dengan tetap menuangkan satu hari energi penuh untuk mendistribusikan bantuan, kawan-kawan sepakat untuk mensinergiskan dengan aksi massa di hari yang sama.

Mendirikan sebuah posko aksi dan edukasi di Simpang Kantor DPRD Palembang sebagai posko sentral, juga posko mobile yang diorganisir dengan datang ke salahsatu wilayah korban kabut asap, yang pada kali ini adalah Gandus RT14. Karena melihat juga tenaga dan juga bantuan, jangkauan juga tak bisa terlalu luas, maka dipilihlah kawasan penduduk yang terkena dampak kabut asap cukup parah karena berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan yang terlebih parah lagi kesusahan mereka untuk mengakses obat-obatan ini sendiri.


Itu juga yang menginisiasi kawan lainnya untuk membuka divisi pendistribusian obat di beberapa titik jalanan untuk beberapa (misalnya) bapak/ibu pembersih jalan atau lainnya yang keseharian ada di jalanan dan menghirup asap, yang sialnya juga agak punya akses susah untuk mendapatkan obat.

Kegiatan di posko sentral (Simpang Kantor DPRD Palembang) akan dimulai pukul 10.00 dari pembagian masker, selebaran, dan pernyataan sikap lewat poster-poster dan banner-banner, ajakan terbuka untuk siapapun datang dan ikut serta dan mengambil bagiannya sendiri dalam satu hari, seperti yang dilakukan satu grup pantonim yang berkoordinasi dengan kita beberapa hari kemarin dan akan melakukan aksi teatrikal minggu nanti. Terbuka untuk semua bantuan dalam hal apapun, termasuk juga karya visual dari kawan-kawan yang pada momen kali ini bisa dikirimkan melalui email sebagai bentuk pendistribusian ide-ide dan aksi protesnya ini tersendiri.

Sekali lagi, ajakan terbuka untuk siapapun yang ingin berpartisipasi, yang perlu kalian lakukan hanya mengontak lebih awal agar tersinergis dengan baik. Sampai ketemu di hari Minggu, sampai ketemu untuk kembali berkumpul mempertanyakan banyak hal, untuk menjadi realistis dan menuntut yang tidak mungkin.


--------------------------------------------------------------


Food Not Bombs Palembang bersama Brigade Palembang Melawan Asap

INI BUKAN BENCANA ALAM!
"Sebuah Aksi Melawan Tindak Kejahatan Korporasi Pembakar Hutan"

Aksi Massa | Edukasi | Pembagian Masker

Pendistribusian Obat | Visual Propaganda

Minggu, 25 Okt 2015

Simpang Kantor DPRD Palembang
Jam 10.00 - Selesai

Kontak:

FNB Palembang
0821 757 959 40
foodnotbombsplg@Gmail.com

"Terus terbuka untuk berbagai bantuan;

partisipan, masker, atau obat-obatan agar ikut serentak didistribusikan
atau juga apapun termasuk karya visual didivisi Visual Propaganda"

Sekali lagi, ajakan terbuka pada siapapun yang menghirup kabut asap yang sama. Ambil bagianmu, dan ikut bersolidaritas untuk dirimu sendiri dan orang-orang tersayangmu sebagai korban kabut asap dari kejahatan korporasi pembakar hutan.


----------------

Diambil dari Press Release Food Not Bombs Palembang >> https://web.facebook.com/FNBPalembang/posts/722863654512163:0

Menyikap Asap dan Menyerang Titik Api Sebenarnya



"Mereka membawakannya, seperti tahun sebelumnya, tepat di depan matamu & masuk ke paru-paru"

Siapa mereka?

"Mereka" adalah metafora yang sering juga kita pakai dalam berbagai medium, yang awalnya hanya berniat menyamarkan, terlihat lebih halus, tak terlalu frontal, tapi tetap menusuk, tapi entah akhirnya ini jugalah yang menggiring pada abstraksi baru, atau pada (si)apa ini akhirnya ditujukan secara personal.

Kabut asap menjadi contoh paling gamblang dan sebuah metafora paling nyata dari kekaburan lapisan eksploitasi dari kejahatan kapitalisme ini sendiri.

Sebuah lapisan yang mengaburkan benang merah sebenarnya dari mana semua ini bermuara.

Tak terlalu muluk atau terlalu naif juga, tapi tentu tak bisa kita pungkiri jika persamaan dari semua yang terjadi dari Rembang, Batang, Kulon Progo, Papua, Kalimantan, sampai Sumatera, dari tambang pasir, pabrik semen, tambang emas, hewan langka, dan kabut asap, kesemuanya adalah indikasi, hasil, dan proses dari ekspansi atau akumulasi primitif sistem kapitalis ini sendiri.

Dan dihadapannya (sistem kapitalis) ekspansi dan dampaknya yang menyusahkan ini adalah normal sebagai kebutuhan apa yang mereka sebut perkembangan.

Dede Mulyanto, yang sekarang mengisi kolom logika di Indoprogress secara faktual ditulisan barunya memaparkan konstilasi benang merah dalang dari pembakaran yang tertutupnya oleh kabut asap, upaya menemukan kembali "Titik Api" sebenarnya. 


Bagaimana "Titip Api" ini dikaburkan dan terkaburkan, dari hal paling lumrah menyalahkan alam dan musim kemarau, kejahilan, ketidaksengajaan, sampai dilansir dari Bahan Rapat Dengar Pendapat Kementrian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional yang menyebutkan di point terakhir dalam "Beberapa Penyebab kebakaran:" adalah Faktor Kesengajaan oleh oknum yang mempunyai masalah dengan PT. Kekonyolan yang hanya membuktikan satu hal, kita tahu kemana mereka (pemerintah red.) selalu berpihak.

Mas Dede membeda konsep "Mereka," dan "Si(apa)," melogikan kembali sebagaimana divisi kerja baru dia di indoprogress ini dengan cukup detail dan terstruktur untuk mengelaborasi lagi dimana atau siapa atau mungkin apa "Titik Api" ini sendiri.

Dan kemana kritik keras ini akhirnya harus berlabuh.

Tulisan penuh "Asap Kapitalistik" dari Mas Dede Mulyanto bisa di cek di laman Indoprogress berikut: http://indoprogress.com/2015/10/asap-kapitalistik/